Selasa, 21 Mei 2013

Persepsi Keliru Soal Pembantu

Pagi tadi, dari dalam rumah sayup-sayup terdengar suara percakapan pembantu tetangga dengan anak bungsu saya Hanif (2 thn), yang kira-kira kalo saya buatkan transkripnya seperti ini :

PRT     : Hanif, udah ganteng nih.. udah mandi ya..?
Hanif   : Iya udah..
PRT     : Siapa yang mandiin..?
Hanif   : Mami..
PRT     : Kok mami, emang mbaknya kemana..?
Hanif   : Ada kok..

Hanif, 2 Thn.
Menurut Anda, ada yang salah ga dengan percakapan anak saya dengan salah seorang pembantu tetangga saya ini? Ehhmm.. mungkin sekilas ga ada yang salah ya.. :) tapi buat saya pribadi memang tidak ada yang salah, tetapi ada yang keliru. Kenapa saya bilang keliru? Coba aja baca komentar si pembantu saat anak saya menjawab yang mandiin dia adalah saya ibunya sendiri, oleh si PRT itu malah ditanggapi kok mandi sama mami, padahal kan ada pembantu yang bisa disuruh. Ya terlepas dari si PRT itu mungkin ga ada tendensi maksud apa-apa selain sekedar menyapa anak saya.

Tetap hal ini menjadi menarik perhatian saya, bahwa ternyata di lingkungan kita saat ini memang ada kemunduran persepsi, kalau boleh saya bahasakan demikian. Kenapa saya anggap kemunduran..? Karena sepertinya ada kesan, jaman sekarang tuh kalo punya pembantu tapi kalo kita sebagai majikan masih ngerjain urusan rumah, seperti momong anak, nyapu, ngepel dan masak sendiri, itu tuh jadi percuma pake pembantu. Padahal kalo mau dipikirkan dengan jernih, kata Pembantu itu artinya orang yang membantu, yaitu membantu kita dirumah, meringankan perkerjaan rumah kita sehingga ga semua dikerjakan sendiri. Artinya, bagi saya pembantu yang memang berfungsi untuk membantu saya membereskan rumah dan momong anak-anak saya, di saat saya tidak sempat dan tidak bisa. Ketika waktu luang, saya pun memanfaatkannya untuk momong anak-anak agar lebih dekat dengan mereka, salah satunya dengan memandikan dan menyuapi mereka makan. Lalu sesekali saya menyempatkan diri untuk membersihkan sendiri rumah, seperti menyapu dan mengepel, karena namanya pembantu, kadang kerjaannya asal beres saja kan. Sehingga saya selaku pemilik rumah juga ingin mendapatkan hasil sempurna yang mungkin itu ga bisa saya dapatkan kalau tidak saya kerjakan sendiri. Apakah itu salah? Keliru?

Buat saya jawabannya tidak! Tetapi ternyata banyak orang diluar sana yang beranggapan itu salah, itu keliru. "Ngapain kita gaji dia mahal-mahal kalo masih  kita juga yang ngerjain..", kira-kira begitu kata salah satu teman saya menanggapi masalah pembantu. Hal yang ingin saya sampaikan adalah, terkadang kita terlalu "tunduk" kepada pembantu, sangat takut kehilangan pembantu, tapi ketika ada kadang-kadang mereka diperlakukan seperti robot, disuruh-suruh terus, seperti yang ga rela kalo liat PRT-nya ga ada kerjaan atau istirahat. Jadi kayak seolah-olah bisa mati kalo ga ada pembantu. hehehehe.. lebay kalo gitu mah..

Ya sekedar mengingatkan saja, agar kita para perempuan, para ibu yang juga mungkin sekaligus ibu bekerja, tidak lupa akan kodratnya untuk mengurus anak dan mengurus rumahnya. Jangan sampai alasan mencari uang untuk menambah kebutuhan keluarga sekaligus membantu meringankan beban suami, dijadikan tameng untuk tidak mengurusi dan mengerjakan pekerjaan rumah sendiri. Padahal justru itu lah kewajiban seorang ibu. Bahwa dia juga bisa sekaligus bekerja, itu menjadi pahal tambahan baginya. Saat-saat memandikan anak, menyuapi anak, itu adalah moment yang dapat mendekatkan dan menghangatkan hubungan antara orangtua dan anaknya. Sementara membersihkan rumahnya sendiri, itu adalah momen untuk kita mengecek kondisi dan keadaan rumah. Masa' ngaku rumah sendiri, tapi posisi penyimpanan palu dan obeng ga tau, dan harus tanya pembantu. Ayo jeng, kita perbaiki persepsi yang salah..

Selasa, 07 Mei 2013

Jangan Egois Jadi Ortu Kalau Mau Anak Lebih Sukses Dari Kita (part 2)

Barangkali ada yang sempat baca tulisan saya yang part 1-nya, mengenai pandangan saya akan pemilihan sekolah untuk anak, yang belum sempat baca (mungkin) ada baiknya baca dulu dengan meng-klik link berikut : http://www.katadenita.blogspot.com/2013/02/jangan-egois-jadi-ortu-kalau-mau-anak.html

Kenapa di tulisan saya kali ini saya berikan judul yang sama dengan tulisan saya terdahulu, hanya ditambahkan part 2 saja? Karena seiring dengan waktu, pengetahuan dan pemahaman saya pun berkembang. Ceritanya putra sulung saya, Nadeem (5 thn) ceritanya tahun ini akan duduk di kelas TK B. Sebelumnya sudah bersekolah di sebuah sekolah swasta franchise yang memiliki konsep yang menurut saya bagus dan pas dengan apa yang saya dan suami cita-citakan dalam mendidik dan mengarahkan putra kami. Namun, seiring dengan berjalannya waktu pula, kami berdua khususnya saya yang sehari-harinya memang sangat fokus terhadap perkembangan kedua putra kami, mengevaluasi bahwa saat ini sekolah tersebut sudah tidak bisa mengakomodir apa yang jadi kebutuhan kami selaku orangtua dan juga putra kami selaku siswa disana.

Pemikiran tersebut membuat saya teringat diskusi saya dengan suami saya. Suami saya Deni, pernah bilang ke saya, bahwa sekolah di zaman sekarang sudah sangat berbeda dengan zaman dulu pada saat angkatan kami. Zaman sekarang, sekolah itu sudah menjadi industri yang sifatnya mencari untung, baik itu swasta maupun negeri. Tetapi mungkin industri itu lebih terasa di lingkungan sekolah swasta. Nah, suami saya beralasan, jaman sekarang semua orang bisa buat sekolah asal punya modal dan tenaga pengajar, dengan segala positioning dan branding yang mereka tawarkan melalui brosurnya. Artinya apa? Kita harus hati-hati dengan sekolah-sekolah yang menawarkan berbagai konsep pengajaran yang terdengar sempurna, tanpa cacat. Karena terkadang idealisme dan kreatifitas tenaga pengajar yang minoritas, dapat tergusur dengan berbagai kebijakan yang diberlakukan oleh yayasannya yaitu pemilik modal, yang mendanai kegiatan sekolah, yang menggaji tenaga pengajar. Jika sudah demikian, maka saya selaku orangtua sudah waktunya mengevaluasi, segala benefit kami selaku pengguna jasa, apakah masih sama persepsinya akan benefits sekolah disana seperti saat awal memutuskan memilih sekolah tersebut.

Suami saya bilang ke saya, kira-kira begini dia bilang, "Selama ada uang, sekolah mana saja bisa kita daftarkan anak kita. Tetapi kita harus punya tujuan dulu, kita mau MENGARAHKAN atau MEMBENTUK si anak..? Kalau mau mengarahkan tentu kita cari sekolah yang memiliki banyak fasilitas, kegiatan dan konsep yang terbuka atau yang tidak memaksakan anak, karena biar anak yang memilih. Tetapi jika ingin membentuk, tentu pilihannya ya sekolah-sekolah yang seperti pesantren, karena disana kedisiplinan sangat ketat. Dari bangun subuh hingga tidur malam, mereka sudah diatur jadwalnya. Dengan rutinitas yang seperti itu, tentu akan terbentuk kedisiplinan itu".


Dan di usia anak 0 hingga 5 tahun adalah Golden Age, yaitu usia dimana anak sangat mungkin untuk DIBENTUK dengan cara dibekali berbagai keteladanan yang baik, yang bagi kami yang dari keluarga muslim, tentunya keteladanan yang sesuai dengan syariah agama dan pastinya norma sosial yang berlaku di masyarakat. Seperti disiplin waktu, sopan santun, sikap sosial, kepedulian terhadap lingkungan, dll. Hal-hal dasar yang mungkin bagi sebagian orangtua muda seperti saya, terlupakan. Karena lebih fokus dengan fasilitas sekolahnya lengkap atau tidak, sekolahnya pake AC atau tidak, nama sekolahnya terkenal atau tidak, seragam sekolahnya lucu ga, dan seterusnya. Saya pun akhirnya berpendapat, fasilitas sekolah dan semuanya itu adalah penunjang. Hal terpenting adalah tenaga pengajar yang berkarakter, yang mampu mendidik dengan hati dan menjadi panutan bagi siswanya. Karena tanpa itu, maka fasilitas sekolah dan nama besar sekolah is nothing! Lalu ketika itu ada, apakah kita begitu saja mempercayakan anak dengan gurunya di sekolah? Tentu tidak!

Agama Islam mengajarkan bahwa anak dibentuk oleh didikan orangtuanya, dan itu pula yang diterapkan Ayah Edi, praktisi parenting di Indonesia, yaitu gerakan Indonesia Strong From Home. Ceritanya saya follower gerakan Ayah Edi ini. Ya itu dia.. orangtua adalah orang yang paling bertanggung jawab atas karakter dan kepribadian anak ketika mereka sudah berada diluar rumah. Ketika kita sudah dengan usaha keras mendidik mereka, jika sekolah yang kita pilih tidak memiliki konsep dan rasa tanggung jawab yang minimal agak sama dengan kita, tentu itu tidak berjalan dengan baik dan akan pincang jalannya. Begitu pula, ketika sekolahnya sudah sangat baik memberikan mutu pendidikan bagi si anak, tetapi orangtuanya terlalu sibuk dengan urusan kantor dan bisnisnya, maka itu juga tidak akan berjalan dengan baik. Sekolah dan orangtua adalah tim, sehingga mereka harus seiring sejalan. Ketika salah satu dianggap sudah tidak sejalan, maka salah satu lebih baik "mundur" mencari yang sejalan, tentunya dalam hal ini adalah orangtua yang mundur alias mencari sekolah lain yang dianggap sesuai dengan kebutuhan anaknya. Semoga apa yang jadi pandangan saya ini bisa bermanfaat dan menjadi sedikit referensi bagi para orangtua yang hendak mencari sekolah bagi anaknya di tahun ajaran 2013-2014 mendatang.

Jumat, 12 April 2013

Garage Sale at My House, 13 April 2013


Awalnya karena sumpek dengan suasana rumah yang rasanya makin sempit seiring dengan anak-anak yang juga tambah gede. Jadi mikir, pengen “ngeluarin” barang-barang yang udah ga pas fungsinya dengan kebutuhan keluarga saya. Akhirnya atas izin suami, saya pun mikir gimana supaya barang-barang bekas ini bisa tetap memberikan manfaat buat mantan pemilik, untuk calon pemilik baru dan untuk kegiatan amal?
Yard Sale atau Garage Sale lah solusi yang terpikir. Sebetulnya aja sih barang-barangnya dikasih langsung ke pembantu. Tapi sempat mendengar rumpian para pembantu yang ternyata suka bahas pemberian majikan anu majikan inu. “Ya  ampun, kalo baju bekas ibu anu mah saya dikasih juga ogah, jelek-jelek dan beneran ga bias pake lagi deh, tapi kalo dari ibu inu tuh saya mau deh, masih bisa dipake dan masih bagus..bla..bla..” kira-kira begitu celoteh para pembantu. Malesin ya.. *sigh*

Singkatnya, jadilah Garage Sale ini, saya pun membuat promosinya dengan seadanya untuk disebarluaskan ke target pembeli di Garage Sale ini, yaitu para pembantu, karyawan pabrik dan buruh di sekitar perumahan kami. Karena memang cukup banyak kalangan ini di sekitar perumahan kami.  Meski sebetulnya tetangga dan warga komplek sebelah pun juga bisa sih.. kalo emang suka dan barangnya masih bagus, kenapa mesti malu ya..? atau gengsi? Duuh kasian ya hidup orang yang makan gengsi.. hihihi.. Pokoknya intinya, Garage Sale ini bias memberikan manfaat buat saya, yaitu mendapatkan keuntungan berupa uang tunai sekaligus rumah jadi “bersih” dari barang-barang yang tak termanfaatkan dengan baik lagi, sementara untuk pembelinya, dia dapat barang “baru” dengan harga murah dan pastinya lebih bermanfaat di dia daripada tetap ngjogrok dirumah kami kan..? 

Harga yang saya tawarkan di Garage Sale ini pun sangat murah, mulai dari Rp 450 perak saja. Produknya pun macam-macam, mulai dari computer, kipas angin, meja makan, sofa, mainan anak, gordeng, pecah belah hingga produk fashion seperti baju, tas, sepatu dan aksesoris. Sebut aja harga sepsang sepatu anak yang kondisinya masih bagus merk baby millionaire, saya lepas seharga Rp 2.900. Kenapa ga dibulatin aja jadi 3.000 sih?? Karena kembalian Rp 100 akan saya mintakan ke pembeli untuk disumbangkan ke mesjid atau panti asuhan. Tapi jika ga mau pun, saya udah siapkan setoples uang Rp 100 untuk kembalian kok.. J
So, minat ikut Garage Sale di rumah saya..? Datang aja kerumah saya, Sabtu 13 April 2013, jam 1 sampe 5 sore. On time loh!


Rabu, 27 Maret 2013

Horee.. Dapat Pembantu ^_^

Kalau dipikir-pikir dengan kepala dingin dan hati tenang, alangkah baiknya Allah padaku. Tidak henti-hentinya Dia memberikan aku berbagai rezeki dalam berbagai bentuk, ya ga perlu dijembreng lah apa aja. Salah satunya adalah soal dapat pembantu yang nginap. Sedikit cerita aja nih ya.. sebelumnya, aku dirumah udah pake mbak 2, tapi semua ga ada yang nginep. Mbak 1 yang urusan full beberes, sesekali masak dan standby mulai pagi sampe siang. Mbak 2 urusannya full anak, dari siang sampe sore atau sampe aku pulang kalo pas ada kerjaan atau kegiatan luar rumah. Tiba-tiba tetangga yang mau pindahan, nawarin pembantunya yang nginap untuk kerja dirumahku. Secara ya aku udah ada mbak, ya sempat aku tolak tuh waktu awal ditawarin. Terus laporan deh ke suami, responnya juga sama, "ga usah lah Mi.. kayaknya ga perlu deh", gitu kata suamiku.

Ternyata seminggu berjalan, si mbak yang kerja dirumah tetanggaku nanyain lagi via tetanggaku yang lain. Akhirnya, ibarat orang lagi belanja di ITC, niatnya beli daster, pas lewat toko sprei ditawarin sprei dengan harga murah, karena ga ngerasa butuh, tuh pramuniaga kita cuekin kan. Begitu lewat lagi ditawarin lagi, malah banting harga lagi, akhirnya yang tadinya ga pengen tau jadi pengen liat kan, kayak apa sih bahan dan motifnya. Nah, kira-kira gitu deh cerita si Aku teh.. hihihi. Singkatnya, setelah ngobrol-ngobrol sama si mbak tetanggaku itu, aku pun tertarik dan akhirnya memutuskan untuk,"OK mbak, kalo emang mbak mau, mbak bisa kerja dirumahku", kita deal tuh ceritanya. Dan dengan berat hati harus menyampaikan ke mbak-mbakku yang lain bahwa mulai bulan depan, mereka ga bekerja lagi dirumahku.

Di sela waktu lengangku, aku mikir,"Pembantu giliran dicari susahnya ampun deh.. giliran ga dicari eeh dateng sendiri.." Tapi dengan adanya mbak yang nginep mulai bulan depan, aku merasa bisa lebih mudah ketika harus mengurusi kerjaan-kerjaan yang sedang aku rintis saat ini. Ya memang, sejak berhenti kerja kantoran, dan merasa anak-anak sudah cukup mandiri dan bisa ditinggal sewaktu-waktu, aku berpikir punya usaha untuk mengisi waktu luang. Ditambah dengan banyaknya target dan rencana aku dan suami di masa berikutnya, untuk kemajuan keluarga kecil kami ini, aku merasa dapat pembantu nginep ini sama seperti dapat rezeki nomplok, hanya saja dalam bentuk non materi. Insya Allah ini akan menjadi awal untuk membantu kami membuka pintu-pintu rezeki keluarga kami.

Salah satunya hal pertama yang akan aku kerjakan pasca dapat pembantu nginap nih ya, (hahahah..lebay ya gue!) bikin event live talkshow tentang parenting dengan konsep ngobrol-ngobrol santai yang menghadirkan narasumber dari kalangan expert atau pakar, yang aku kasih nama NgoBraS (Ngobrol Bareng Bahas) Parenting. Insya Allah project event dari Kunita Pro ini akan diadakan pada Sabtu 18 Mei 2013 di Bekasi Square. Menghadirkan Bunda Kurnia Widhiatuti dari Sygma Parenting Center (baca : www.sygmadayainsani.com/spc/ ) dengan tema "Menjadikan Anak Cerdas, Gampang?".  Temen-temen yang terutama orangtua muda nih, ayo gabung ya, tiketnya untuk pasangan atau 2 orang seharga Rp 100.000 kalau perorang tiket harganya Rp 60.000. Harga naik mulai 1 Mei 2013, yang tiket pasangan atau berdua jadi Rp 200.000 dan yang perorang tiketnya jadi Rp 110.000. Info lengkap, main-main aja ke blog aku lainnya di sebelah http://kunitapro.blogspot.com/2013/03/live-talkshow-bersama-bunda-kurnia.html


Doakan ya.. ayo join di live talkshow ini, biar nambah pengetahuan tentang mendidik anak, karena mendidik anak ga ada sekolah formalnya, yang ada learning by doing dan via sharing dengan sesama orangtua lainnya. Acara ini lah wadahnya :) 

Sabtu, 23 Februari 2013

Jangan Egois Jadi Ortu Kalau Mau Anak Lebih Sukses Dari Kita



Tiba-tiba teringat pembicaraan segerombolan ibu-ibu yang nampaknya sedang sarapan sambil menunggui anak mereka yang sekolah TK di sekitar tempat saya biasa membeli bubur ayam, beberapa hari lalu. Bukan bermaksud menguping, tapi memang karena suara mereka cukup kencang dalam “berdiskusi” tentang SD-SD yang sedang menjadi target mereka. Karena nampaknya putra-putri mereka tahun ini akan segera memasuki jenjang Sekolah Dasar. “Sekolah ini pendidikannya bagus bu, anak-anak ini selain belajar pelajaran umum, juga diwajibkan hapal surat-surat Alquran yang akhirnya saat lulus SD mereka bisa hapal Alquran, bla..bla..” kata salah seorang ibu dengan berapi-api.

Saya hanya mendengarkan saja, tanpa berkomentar. Ya iyalah.. kalo tiba-tiba saya komentar, diteriakin sama tuh ibu-ibu,” Siapa lo..??” *LOL*  Lalu ternyata beberapa teman saya juga ternyata sedang sibuk memilih SD untuk putra-putrinya. Saya pun teringat pula akan diskusi saya beberapa minggu lalu dengan suami, terkait rencana menyekolahkan anak. Karena putra kami yang pertama, Jamael Nadeem (4,5 thn), tahun depan pun Insya Allah akan memasuki jenjang Sekolah Dasar pula. Ceritanya saya sebagai ibunya anak-anak sudah punya pilihan dan rencana dalam memilih SD untuk anak. Sebuah SD Istec yang ga jauh dari rumah, yang secara nama tanpa embel-embel Istec-nya, sekolah ini cukup bernama. Pertimbangan saya, selain lokasi yang tidak terlalu jauh dari rumah, nama SD tersebut cukup familiar di telinga, dan (sepertinya) biaya masuk dan bulanan sekolahnya tidak terlalu mahal dan seterusnya.

Ketika saya dan suami berdiskusi, saya sampaikan rencana saya tersebut dengan segala alasan dan planning jangka panjangnya. Biasanya, untuk urusan anak, suami saya tuh ga banyak komentar dan cenderung lebih ikutan aja dengan rencana saya, karena menurut suami, saya dianggap lebih paham urusan rumah dan anak-anak. Tetapi diluar dugaan, kali ini ternyata suami saya berbeda pandangan dengan saya. Suami ga menolak ide saya sih, tapi dia menambahkan opsi bagi kami untuk pendidikan anak kami. Dia menambahkan opsi sebuah sekolah Islam yang sudah terkenal dimana-mana, dengan jaringannya yang juga luas. Sekedar diketahui, saya sempat terpikir ingin menyekolahkan anak-anak disana, tapi mengingat (katanya) mahalnya biaya masuk sekolah tersebut, dan gaya pergaulannya yang agak borjuis, membuat saya mencoret sekolah tersebut dalam opsi pilihan sekolah anak. “Aduuh bu, mending ga usah kesana deh.. disana pergaulannya ga bagus, soalnya kebanyak anak-anak borju yang sekolah disana, kalo liburan minimal ke singapur, trus ditanyainnya sekolahnya diantar pake apa.. Ga bagus buat perkembangan mental anak bu.,.” begitu kira-kira kata tetangga saya tahun lalu, saya diskusi soal sekolah anak.

Dan hal itu pun saya sampaikan ke suami, sebagai bentuk argumentasi saya dalam menanggapi keinginannya untuk menambahkan sekolah Islam ternama tersebut dalam opsi pilihan SD Nadeem nanti. Suami saya bilang, alasan-alasan penolakan saya atas SD Islam ternama dan terbesar itu memang benar, tapi dibalik semua alasan tersebut, suami saya pun punya alasan-alasan yang jauh lebih penting dari sekedar alasan yang sebetulnya ga penting sih..  Kesempatan!  Itu alasan suami saya dalam memilih sekolah tersebut. Menurutnya, dia ingin putranya bersekolah di sekolah yang memberikan banyak peluang dan kesempatan bagi putra kami kelak, sekolah yang memberikan keuntungan bagi CV putra kami kelak, sekolah yang memberikan pendidikan tidak hanya sekedar pendidikan berbasis kurikulum, tetapi juga pelajaran nilai kehidupan yang hanya bisa dipelajari dengan mengalaminya langsung dan untuk anak usia SD, tentunya memang harus selalu dalam pantauan orangtuanya, yaitu saya sebagai ibunya.

Soal pergaulan yang borjouis, diantar sekolah harus pakai mobil, liburan sekolah keluar negeri, menurut suami saya, itu hanya hal-hal kecil yang sifatnya duniawi dan harus bisa kami ajarkan ke anak-anak kami untuk tidak menjadi tolak ukur dalam menilai pribadi seseorang. Ketika kami yang dari keluarga biasa-biasa saja, bisa bertahan dan mengajarkan anak-anak kami dari terpaan nilai-nilai sosial yang sangat sempit ruangnya tersebut, disitulah keberhasilan kami sebagai orangtua dalam mendidik anak. Karena putra kami nantinya tidak hanya menjadi murid yang pintar secara akademis, tetapi juga pintar sebagai mahluk sosial-yaitu Pandai bergaul, tanpa harus memandang strata, jabatan dan kelas ekonomi keluarga temannya. Subhanallah.. saya cukup kaget dengan pandangan yang disampaikan suami saya, tidak pernah terpikir hal-hal tersebut sebelumnya. Dan saya anggap 100% benar pandangan tersebut, tetapi saat itu saya tidak menanggapi pandangan yang disampaikan suami saya. Tetapi saya memikirkannya dan mencoba memaknai apa yang jadi pemikiran suami saya saat itu. Akhirnya saya merasa, saya terlalu picik dan dangkal pikirannya saat memutuskan SD pilihan bagi anak kami. Dasar-dasar pemikiran yang saya pakai, semuanya hanya memikirkan dari kebutuhan saya sebagai orangtua, tetapi tidak mewakili kira-kira apa yang dibutuhkan putra kami dalam menyongsong masa depannya kelak.

Well, saya dan suami juga pernah di bangku sekolah, kami masing-masing pun punya pengalamannya masing-masing. Saya misalnya, sejak SD hingga SMA lingkungan sekolah saya tidak keluar dari satu rute tersebut, kecuali saat kuliah yang akhirnya benar-benar jauh dari rumah karena diluar kota. Sementara suami punya kisah lain, suami sejak SD sering berpindah-pindah sekolah. SD-nya sempat di Padang, lalu Jakarta dan Palembang. SMP-nya di Jambi, SMA di Palembang dan kuliah di Bandung. Saya pun mengevaluasi, karakter diri kami masing-masing dan pola pikir kami, yang pastinya terbentuk dari didikan keluarga dan lingkungan kami dibesarkan dan berkembang. Pastinya harapan semua orangtua, agar anak-anaknya memiliki karakter dan kemampuan yang lebih baik dari orangtuanya, serta kesempatan yang lebih baik dari kami orangtuanya.

Akhirnya saya pun sampai pada kesimpulan, jika ingin anak menjadi lebih baik dari kita sebagai orangtuanya, maka kita pun harus berpikir bukan hanya berdasarkan kemauan/kebutuhan/keinginan kita saja, tetapi juga harus dipahami dan diketahui kebutuhan apa yang harus kita penuhi bagi si anak agar menjadi penerus keturunan kita yang lebih baik dari kita sebagai orangtuanya. Tetapi semua itu juga harus merujuk pada diri kita sendiri, dan dengan melihat karakter si anak. Masa’ sih kita sebagai orangtua ga bisa melihat kecenderungan anak kita seperti apa…  Maksud saya kira-kira begini, kalo kita saja tidak mampu melakukan suatu hal, ada kemungkinan anak kita pun ga mampu melakukan hal tersebut, jadi jangan paksakan dia untuk bisa. Mungkin hal lain dia bisa lakukan. Lalu, dasar dalam memilih SD bagi anak, jangan hanya berdasarkan alasan-alasan ga penting seperti alasan-alasan saya sebelumnya, yaitu jarak sekolah kerumah, kebonafitan nama sekolah tersebut dan biaya sekolah. Khusus poin terakhir, bagi keluarga kami ini poin penting. Tetapi jika mampu kenapa harus hitung-hitungan untuk investasi dunia akhirat yang kita tanamkan kan? :)  Tetapi juga adalah salah bagi kami selaku orangtua, jika alasan utama memasukkan anak ke sekolah ternama, hanya semata karena alasan kebonafitan sekolah tersebut. Urutkan benefit-benefitnya dari yang paling penting, hingga yang tidak penting dan namai benefit yang ga penting itu sebagai bonus.

Percayalah, sekolah ternama TIDAK akan bermakna apa-apa bagi pribadi yang tidak bisa memanfaatkan nama besar sekolahnya. Sebaliknya sekolah tidak ternama sekalipun akan menjadi bermakna (bernama) ketika lulusannya adalah orang yang pintar bergaul, cerdas dalam memanfaatkan kesempatan dan pastinya ulet serta gigih dalam memperjuangkan apa yang menurutnya baik. Hehehe.. pengalaman pribadi nih.. Ga bo’ong loh akuh.. :p

Rabu, 23 Januari 2013

Indomie Mie Goreng Cabe Ijo, rasa...

Akhirnya setelah berburu selama beberapa hari, Indomie Mie Goreng Cabe Ijo ini saya ketemukan di Alfamidi yang letaknya agak jauh dari rumah saya dibanding dengan Indomaret dan Alfamart yang selalu tidak tersedia stok mie ini. Dan setelah dicoba rasanya... So..So..

Sejak saat membuat mie ini, bau khas cengek alias cabe ijo memang sudah tercium tajam melalui minyak bumbunya yang juga sudah berwarna hijau. Warna hitam kecap yang disediakan pun tetap kalah warna dengan si bumbu minyak hijaunya. Singkatnya begitu mie matang, saya segera mencicipinya karena ga mau keburu dingin. Rasa yang dominan memang benar-benar rasa cabe ijo. Tetapi ketika masuk sendokan mie yang ke-3, lidah saya mulai merasa bosan. Mungkin karena saya tidak terlalu "meracik" mie saya ini dengan berbagai tambahan lain ya. Tetapi jika dibandingkan Indomie Mie Goreng Rendang yang pernah saya ulas juga (baca : http://katadenita.blogspot.com/2012_01_01_archive.html ) menurut saya rasa Indomie Mie Goreng Rendang lebih "rame" dibanding Mie Goreng Cabe Ijo yang cenderung monoton.

Tapi menurut saya, untuk mereka yang biasanya menikmati mie instant dengan irisan cabe ijo, pastinya lidahnya akan cocok dengan variant baru dari Indomie ini. Seperti saya, meski harus lebih menambahkan "teman" bagi si mie goreng cabe ijo ini, seperti kerupuk, telor orek, sayur sawi dan bahan pelengkap lainnya. So, selamat menikmati ya.. :)

Selasa, 08 Januari 2013

Kebahagiaan dan Keharuan di Ultah Hanif ke-2

Kami sekeluarga dengan Kaos seragam yang saya siapkan gambarnya.
Alhamdulillaah.. acara syukuran ulang tahun Hanif yang ke-2 udah kelar, berlangsung lancar, seru dan sukses. Puas rasanya bisa membuat acara yang bisa membahagiakan banyak orang. Karena dari ekspresi semua yang hadir di acara kami, wajahnya happy. Meski saya yakin pasti ada terdapat kekurangan-kekurangan pada pelaksanaannya. (baca : http://kunitapro.blogspot.com/2013/01/pesta-ultah-haneef-berlangsung-sukses.html )

Sebetulnya niat membuat acara syukuran ultah Hanif ini sangat spontan terlintas. Karena gagalnya liburan akhir tahun, karena suami ga bisa cuti bahkan harus bertugas, akhirnya kepikiran pengen bikin acara ultah Hanif. Itu pun juga karena liat Hanif yang tingkahnya kok semakin lucu dan menggemaskan. Hanif yang waktu itu mau 2 tahun, terdengar sangat comel untuk anak seusia itu. Dia sudah sangat lancar bicaranya, bahkan sudah menggunakan kata "dong, sih, deh, ah, doang" dll, lengkap dengan intonasi dan ekspresinya. Hahahaha, kebayang kan..?? Makanya saya sebagai ibunya kok kepengen orang-orang tau tentang kepintaran anak kami yang baru berusia 2 tahun ini. Hanif juga suka sekali menyanyi dan sudah hapal beberapa doa harian.

Singkatnya atas izin suami, saya pun mempersiapkan semua kebutuhan acara ultah Hanif. Mulai dari pemilihan tempat, design undangan berbentuk e-card, Banner Ultah, Suvenir, Design kaos seragam keluarga, Rundown acara, konsep acara dll. Hingga hari H, semua berjalan lancar dan sukses. Dari 100% tamu yang kami undang 80% hadir. Rasa bahagia dan haru bercampur jadi satu, melihat banyaknya tamu kami yang hadir. Bahagia karena melihat kedua putra kami, Nadeem dan Hanif sangat menikmati acara demi acara, dan Hanif seperti yang kami perkirakan bisa bersikap baik terhadap tamu-tamu cilik yang kami undang, bahkan Hanif pun menunjukkan kebolehannya dalam menyanyi yang disambut tepuk tangan riuh dari tamu-tamu kami. Bahagia yang kedua juga karena kami melilhat senyum-senyum happy di wajah para tamu kami, tatkala mereka melihat putra putri mereka berani maju ke depan bermain bersama hingga menyanyi dipandu oleh MC.

Saya cukup kagum dengan anak-anak kecil yang hadir pada hari itu. Anak-anak ini meski tidak saling kenal, tapi mereka bisa langsung akrab dan tidak sungkan untuk bermain dalam games yang digelar oleh MC. Bahkan bisa dibilang anak-anaknya sangat aktif. Lalu hal yang membuat kami terharu adalah banyaknya tamu kami yang hadir, dimana kami tau lokasi tinggal dari beberapa tamu kami bukan dalam jarak yang dekat, yaitu dari Tangerang, Cibubur, Depok, Jakarta, Cibitung dan paling jauh Palembang. Ya, mama saya yang tinggal di Palembang pun memutuskan hadir di ultah cucunya dengan mengajak serta keponakanku yang baru berusia 2 bulan.

Lalu ada pula sahabat saya, Iko yang sudah bertahun-tahun tidak bertemu, datang ke acara ultah Hanif hanya bersama suaminya, karena anaknya sedang kurang fit. Terharu sekali, mereka sengaja meluangkan waktunya hadir. Lalu ada pula yang berhalangan hadir, namun menitipkan kado untuk anak kami. Lalu sanak saudara yang jarang pergi-pergi keluar pun, tanpa diduga menyempatkan diri hadir di acara kami. Terima kasih yang tak terhingga kami ucapkan kepada mereka semua yang telah meluangkan waktunya untuk berkumpul bersama kami, berbagi kebahagiaan. Allah lah yang bisa membalas semua perhatian yang mereka berikan kepada kami.

Karena mengurus semua persiapan ultah Hanif ini pula, terpikir ide untuk membuat Event Organizer yang spesialisasinya mengurus event anak-anak, seperti acara ulang tahun, sunatan, akikah dan farewell party sekolah. Saya berpikir, dulu jika saya masih kerja kantoran, mungkin ga bisa maksimal urus persiapan ultah Hanif. Karena pemikiran itulah, saya memiliki ide untuk membuat EO khusus event anak-anak. Niatnya adalah ingin membantu sesama ibu yang ingin memberikan perhatian dan kenangan pada anaknya saat mereka dewasa kelak. Karena pesta ulang tahun yang seru, dgn dokumentasi yang baik, tentunya akan menjadi kenangan tersendiri.

Berikut foto-foto dokumentasi acara Hanif yang berlangsung hari Sabtu, 5 Januari 2013 di Hoka Hoka Bento Bekasi Square.


Mendidik Anak Untuk Bahagia

Add caption Beberapa hari lalu, tepatnya pas anak-anak didik saya di SFC Kids Futsal latihan, ceritanya saya membagikan piala yg sudah ...