Senin, 20 Januari 2014

"Ngebohong Salah, Jujur Malah Tambah Salah"

Mungkin ada yang pernah tau lagunya Slank yang judulnya "Balik Balikin", salah satu bait liriknya adalah "Ngebohong Salah, Jujur Malah Tambah Salah". Tiba-tiba aja liriknya ini yang terngiang di benak saya, saat pagi tadi perbincangan saya dengan putra sulung saya Nadeem (5thn). Ya, saya mendapati anak saya berbuat curang atas salah satu titipin uang tabungannya di sekolah, yang seharusnya ia setorkan ke gurunya. Saya sempat terpikir untuk marah, tapi langsung sadar, masih bagus anak saya jujur cerita ke saya. Kalo ga, mungkin saya ga pernah tau atas kesalahannya dan kalo sudah makin sering dan usia anak saya bertambah, pasti akan lebih sulit memperbaiki.


Ceritanya begini, pagi tadi (21/1/14) seperti biasa saya mengingatkan anak saya akan bekal makan siangnya dan apa aja isi tasnya hari ini, termasuk uang tabungannya yang harus ia setorkan ke gurunya. Saat saya ingatkan uang tabungannya, anak saya bilang ke saya,"Iya, tapi mami jangan bilang Bunda ya..", maksud anak saya, saya ga usah bilang ke gurunya kalau hari ini dia bawa uang untuk tabungannya. Nadeem ngomongnya dengan tenang dan pake senyum. Saya kan bingung ya, kenapa saya ga boleh bilang ke gurunya atas uang tabungan yang saya sisipkan di tasnya? Saya sempat mikir, sampe akhirnya nyambung dengan maksud perkataan Nadeem. "Loh! kenapa mami ga boleh bilang ke bunda? Kamu ambil uang tabungan itu untuk jajan ya??", selidik saya ke Nadeem. Saat itu ekspresi Nadeem berubah bingung, saya melihat mimik wajahnya dia merasa ga ada yang salah dengan yang dia lakukan. Dia sepertinya malah mikir, kenapa saya bertanya balik dengan sewot. Tapi anak saya tetap menjawab pertanyaan saya dengan jujur, dia bilang iya, dia mengakui bahwa dia pernah ambil uang tabungannya itu untuk jajan.

Lalu di mobil itu juga saya coba ingatkan anak saya, bahwa apa yang dia lakukan adalah salah, saya sampaikan bahwa sikapnya itu tidak bedanya dengan pembohong, pencuri dan apa yang dia lakukan adalah perbuatan tidak terpuji yang tidak disukai Allah. Kalau Allah marah, kita bisa dapat hukuman dari Allah, dan seterusnya. Tentu saya sampaikan dengan bahasa dan intonasi yang saya usahakan tidak menghakimi dia. Anak saya hanya diam mendengarkan, saya liat mungkin dia masih belum paham akan apa yang saya sampaikan. Karena mungkin dia pun merasa, tidak ada salahnya dengan apa yang dia lakukan. Sampai di sekolah, saya sampaikan cerita itu ke gurunya, tentunya tidak didepan anak saya. Saya minta gurunya, untuk bisa bekerjasama dengan saya sebagai orangtua untuk bisa mengingatkan anak saya lagi, atas kekeliruan yang dia lakukan. Karena terkadang, anak saya lebih bisa dengar kata gurunya, daripada kami orangtuanya.

Pelajaran yang saya dapat hari ini adalah, pertama saya sangat menghargai kejujuran anak saya. Entah akan seburuk apa dampaknya, jika saya tidak segera tau akan kecurangan anak saya. Kedua, saya pikir, anak saya mempercayai saya, sehingga dia minta saya untuk tidak bilang ke gurunya, soal ada uang tabungan. Dia pikir, saya bisa diajak kerjasama untuk menyembunyikan akal bulusnya. Ketiga, anak saya seorang yang cerdik (baca:cerdas). Kenapa saya bilang cerdik bukan cerdas? karena dalam kamus saya, cerdik itu biasanya kecerdasannya digunakan untuk hal-hal yang kurang terpuji, seperti bohong, cari modus biar ga kena hukuman. Sedangkan kalo cerdas, dalam kamus saya ya kecerdasannya digunakan untuk hal-hal yang positif, seperti misalnya anak saya jago merakit mainan atau bikin lego, bahkan jadi penunjuk jalan alternatif, kalo saya ga tau jalan menuju pulang. Ceritanya dia itu pulang sekolah langganan naik ojek, ojeknya suka ajak lewat jalan-jalan kecil yang baru dia tau, tetapi meski baru dia lewati, Nadeem hapal dengan rute itu. Kudu hati-hati nih mengarahkan anak seperti Nadeem.

Pelajaran lainnya, saya "membantah" lirik lagu Slank yang bilang "Ngebohong Salah, Jujur Malah Tambah Salah.." hehehehe.. Karena dulu jaman saya kecil, saya lebih suka bohong biar orangtua saya ga panjang nanyanya. Sekarang di saat saya punya anak, saya ingin justru anak saya paham dengan kalimat "Berbohong itu SALAH, bersikap Jujur adalah BENAR, meski kadang menyakitkan". Benar dan saya setuju dengan artikel Ayah Edi (baca : https://www.facebook.com/komunitas.sudahpenuh?fref=ts ) yang intinya bilang, Mental Ketidakjujuran adalah sumber bencana berantai sebuah negara. Prihatin dengan negara kita saat ini? Mau beresin negara? ya semua harus dimulai dari lingkungan terkecil, yaitu keluarga. Didiklah anakmu sebaik mungkin teman.. Selamat beraktifitas :) 

Sabtu, 11 Januari 2014

Susah Memilih Sekolah Anak?

Pusing dan galau. Kira-kira itu kata yang mewakili perasaan saya saat ini. Padahal ini bukan urusan yang gimana banget, tapi ini mengenai urusan pemilihan SD untuk anak saya yang In sha Allah tahun 204 ini masuk SD. Ternyata ga mudah milih sekolah untuk anak. Pertimbangannya ga cuma soal sekolah bagus dan biaya sekolahnya aja, tapi banyak lagi pertimbangan lainnya. Seperti, fasilitas sarana dan prasarana sekolah, SDM gurunya, jarak, waktu belajar, macam ekstrakulikuler, hingga lifestyle sekolah itu. Kenapa pula pake disebut lifestyle?? Ya iya dong, anak kita kan akan sekolah disana ga cuma 1 atau 2 tahun, tapi 6 tahun loh! dan artinya lingkungan itu yang akan jadi keseharian dia selain lingkungan rumah. Maka penting untuk kami selaku orangtua untuk memastikan lingkungan dan lifestyle seperti apa yang akan dihadapi anak kami. Karena itu juga jadi salah satu penentu kepribadian anak kami kelak.

Nadeem (6 thn) putra pertama kami, tahun ini mau masuk SD. Karakter anakku ini dibanding adiknya Hanif (3 thn) agak lebih nyeleneh. Maksudnya ya, Nadeem ini berdasarkan tes sidik jarinya dulu, merupakan anak dengan karakter kinestetik,  yaitu anak yang cukup banyak bergerak dan belajarnya tidak cukup hanya dengan visualisasi, tetapi juga motoriknya diberdayakan atau dengan kata lain praktek. (baca:  http://www.psikologizone.com/siswa-berkarakter-kinestetik-perlu-diperhatikan/065116867 ). Hal itu juga salah satu yang membuat saya jadi cukup berhati-hati milih sekolah untuk anak saya. Hasil tes sidik jarinya pun dulu menyarankan supaya anak saya ini, sekolah di sekolah alam. Well, itu satu hal baru untuk saya, selain metode belajarnya katanya beda dengan sekolah umum, sekolah alam yang bagus pun ternyata lokasinya ga dekat rumah saya. Satu hal yang juga harus jadi pertimbangan, saya ga mau anak saya udah stres duluan mau menuju sekolah, karena udah harus bangun pagi-pagi sekali untuk bisa berangkat sekolah, berpacu dengan kemacetan dan hiruk pikuk jalanan.

Akhirnya rencana untuk masuk ke SD alam sepertinya tidak bisa terealisasi. Akhirnya pilihan pun mengerucut lagi menjadi hanya 3 sekolah. Hal ini pun masih harus dibahas bersama, dengan suami dan anak saya. Disamping itu, mencari referensi pengelaman orang lain pun saya upayakan dengan ngobrol dengan teman yang anaknya sekolah di sekolah tersebut, atau bahkan browsing dari internet. Dari hasil ngobrol itu, menurut saya akhirnya pertimbangan memilih sekolah pun menjadi sangat kompleks. Mulai dari Gedung sekolah, sarana dan prasarana sekolah, SDM, keamanan, biaya sekolah, lokasi, jam belajar, kantin dan toilet serta lifestyle atau faktor lingkungannya. Saya pun untuk memudahkan identifikasinya sampe bikin tabel loh! Hihihi dasar emak-emak ya..

Rabu, 08 Januari 2014

Cara Gampang Bayar Tagihan Rumah Tangga

Jadi ingat tahun 2013 yang lalu saat jam 2 pagi listrik dirumah mati. Setelah dicek, ternyata pulsa listrik token dirumah saya habis, ya wajar aja listriknya mati. Karena itu jam 2 pagi, ga ada yang bisa saya lakukan selain menanti pagi. Kondisi mati listrik itu membuat AC ga nyala, sehingga panas dan nyamuk pun bermunculan, membuat saya harus selalu terjaga untuk ngipasin anak-anak yang jadi rewel karena kepanasan. Begitu pagi datang pun, saya harus mencari outlet penjualan pulsa listrik yang sudah buka.

Akhirnya ketemu dengan salah satu teman yang menjual pulsa HP dan termasuk pulsa listrik. Untuk sementara waktu, saya pun bisa lebih tenang, karena tiap kali pulsa listrik mau habis, saya tinggal sms temen saya ini. Tetapi kemudian itu pun tidak bertahan lama, karena ketika teman saya ini melahirkan, teman saya ini memilih off sementara jasa penjualan pulsanya, agar bisa fokus ke bayinya. Lagi-lagi saya kembali ke cara konvensional, yaitu pergi keluar untuk membeli berbagai jenis pulsa kebutuhan keluarga. Rada ribet sih, tapi ya mau gimana lagi?

Ilustrasi Beda Transaksi Konvensional, e-Banking & VPay
Lalu di internet saya membaca begitu banyak yang bahas VSI Virtual Pay. Saya bener-bener penasaran, apa sih itu? kayak apa sih cara kerjanya? (baca: http://vpay-network.com/?reg=deta ).   Saya tidak memikirkan bisnisnya dan akan sebesar apa bisnis ini berkembang. Bagi saya, teknologi dan sistem yang ditawarkan, yaitu bisa memberikan banyak kemudahan untuk saya dalam membayar berbagai tagihan dan pulsa keluarga, itu saja sudah cukup untuk saya. Tapi ternyata masih ada lagi benefit tambahan untuk saya, yaitu cashback untuk setiap transaksi yang saya lakukan melalui keanggotaan VSI yang saya miliki ini. Hal yang tidak saya dapatkan jika bertransaksi via ATM Bank, atau bahkan beli via outlet penjualan pulsa, yang ada malah dikenakan biaya administrasi atau harganya lebih mahal sekitar Rp 2.000 dari harga normal.

Sekarang untuk saya, membeli pulsa HP, beli pulsa listrik dan bayar tagihan telpon, ga perlu keluar rumah atau antri. Karena hanya dengan HP saya ini, semua bisa saya lakukan. Cepat, Nyaman dan Aman. Sebagai ibu-ibu, saya juga bisa hemat waktu (ga perlu antri lama), hemat biaya (ga kena biaya admin, ongkos bensin dan jajan karena kelamaan antri) dan bahkan dapat bonus berupa cashback (setiap transaksi langsung dapat cashback). Btw, suka ngeh ga, sekarang kalo belanja di minimarket berjaringan yang tiap 10 m ada itu, pas mau bayar suka ditawarin beli pulsa HP? Atau bisa beli tiket kereta di minimarket tersebut, beli pulsa listrik dll. Itu karena untuk setiap transaksi kita, minimarket tersebut dapat cashback. Meski nilainya kecil, hanya sekitar Rp 20 perak, kalau sehari x 20 pengunjung, lalu x 30 hari, dan kalikan lagi dengan ratusan gerai mereka yang tersebar hanya di satu kotamadya saja. Berapa ratus juta tuh hanya dari jasa e-payment itu?? Makanya kalo liat foto ilustrasi diatas, sengaja saya jembreng, kenapa perusahaan-perusahaan itu yang tersenyum. Nah di VSI, cashback yang masuk ke bank atau minimarket itu, "dikembalikan" kepada si pemilik dana yang bertransaksi, bahkan pemilik dana yang sudah membership VSI Vpay ini pun bisa mengembangkannya jadi sebuah bisnis dengan income ratusan juta /bulan. Tapi kalo saya sih ga muluk-muluk, cukup bisa bayar semua tagihan pribadi secara cepat, praktis, hemat dan pastinya aman saja udah cukup.

Tetapi, untuk setiap orang yang juga ingin punya kemudahan seperti yang saya dapatkan ini, lalu dia bergabung, maka saya pun dapat reward berupa komisi. Dan untuk setiap transaksi dari downline saya, saya pun menerima cashback. Anda pun juga bisa seperti saya, menguntungkan sekali ya.. :)  Dan yang pasti, saya suka dengan tagline bisnis yang dikembangkan oleh Ust. Yusuf Mansyur ini.. "Membeli Kembali Indonesia", patut didukung. (baca: http://klikvsi.com/company/ )
Jenis Paket Unit Usaha di VSI VPay, yang bisa disesuaikan dengan kemampuan dan kebutuhan

Buat saya ga ada ruginya beli membership VSI yang hanya senilai Rp 275 ribu ini. Manfaatnya betul-betul nyata untuk saya dan sudah saya buktikan. Saya tidak pernah mau ikut MLM yang sebetulnya malah membuat kita jadi konsumtif untuk beli produk, karena ada sistem tutup poin, daripada hangus dan harus ulang dari awal, member-nya rela belanja barang yang sebetulnya ga dibutuhkan. Nah, di VSI, sudah pasti akan ada transaksi setiap bulan, setiap minggu, setiap hari, bahkan setiap menit! Karena listrik, PAM, pulsa, cicilan itu semua kan pasti kita bayar setiap bulan kan?? Ga mungkin ga bayar..  Jadi, Anda BERGABUNG dengan saya dan VSI atau pun TIDAK,  saya bersama VSI akan terus berkembang, dimana saya akan ada income tambahan sekaligus punya kemudahan dalam bertransaksi apapun. Karena nantinya memang semua alat bayar akan tergeser oleh alat bayar seperti Virtual Pay (VP) dari VSI ini.

Well, ingin bisa dapat berbagai kemudahan dan benefit seperti yang saya dapatkan..? Silahkan hubungi saya dengan meninggalkan alamat email di kolom comment. Salam sukses 2014!



Rabu, 27 November 2013

Flashback 10 tahun Meninggalnya Papa

Seperti diputerin film dalam benak saya hari ini. Yah.. hari ini 26 November 2013, tepat 10 tahun Alm. Papa saya meninggal, lebih tepatnya meninggal mendadak. Hampir semua orang yang dengar kabar itu tidak percaya. Karena Papa saya itu, meninggal di hari kedua lebaran, sekitar jam 23.55 WIB, di Bandung. Alm. ke Bandung bersama mama saya dan adik-adik saya dengan menggunakan kendaraan pribadi, dimana Papa nyetir sendiri. Artinya beliau sehat dong..

Berdasarkan diagnosa dokter, Papa saya meninggal akibat serangan jantung di tahun 2003. Papa saya meninggal secara mendadak, hanya selang 15 menit setelah beliau minta diambilkan sepiring makanan. Padahal Alm. Papa tidak pernah punya sakit jantung. Saat itu kondisinya adik-adik saya waktu itu 1 masih kuliah, 1 baru lulus SMA dan yang 1 baru lulus SMP. Mama saya hanya seorang ibu rumah tangga, murni hanya mengurusi rumah tangga.  Alhamdulillah, mama saya adalah seorang yang sangat disiplin menabung khususnya menyisihkan biaya pendidikan kami anak-anaknya, serta tabungan pensiun mereka. Hal yang ga diduga pula, ternyata 1 bulan sebelum meninggal, ternyata Alm. Papa saya beli polis asuransi, dengan langsung membayar premi untuk 1 tahun. Dan itu tanpa sepengetahuan mama saya.Ga tau kenapa bapak saya memilih untuk tidak bilang ke ibu saya, mungkin kalo bilang bakalan ga diijinin beli polis asuransi kayaknya.. hehehehe.. Singkatnya, mama saya sebagai istri almarhum mendapatkan uang santunan meninggal dari asuransi tersebut. Lumayan lah untuk nambah-nambah kata mama saya waktu itu.
Foto Alm. Papa saya, Bpk. H. Adrizal Agus

Di saat saya sekarang sudah berumah tangga dan memiliki anak, saya pun berkaca sambil mengevaluasi berbagai kondisi yang ada. Saya berandai-andai, jika yang terjadi pada Mama saya terjadi pada kami dan pada kondisi anak-anak masih kecil-kecil, dimana masih panjang perjalanan kami untuk bisa terus membiayai anak-anak.. apakah kami sanggup? Saya yakin, pasti bisa! Dengan catatan kondisi meninggalnya sama dengan Alm. Papa saya, langsung meninggal. Bukan yang harus menderita sakit kritis bertahun-tahun dulu. Na'udzubillahimin dzalik.. Lindungi kami Ya Allah. 
 
Di sisi lain, saya melihat kondisi Mama saat ini sudah mulai masuk ke titik dimana Mama harus lebih mengencangkan ikat pinggang. Karena memang segala peninggalan Alm. Papa asetnya satu persatu mulai terjual demi memenuhi kebutuhan hari-harinya. Masih bersyukur, Mama sampai hari ini kondisinya sehat. Bagaimana jika sakit keras? Tentunya akan semakin menguras harta yang ada, dan hingga bisa mengalami kebangkrutan di saat sakit kritisnya pun belum sembuh dan butuh biaya lebih banyak lagi. Apakah saya anaknya mampu menopang biayanya..? Untuk kondisi sekarang, jujur saya bilang tidak! Lalu apakah saya tega membiarkan Mama yang sudah memasuki usia 56 tahun, apabila dia terkena sakit kritis dan butuh biaya besar? Tentu tidak! Tapi bagaimana saya bisa membantu mama dan diri saya sendiri dalam melindungi ibu saya? Saya mencoba mengikuti langkah yang diambil oleh Almarhum Papa saya, yaitu dengan membeli polis asuransi lah saya berusaha melindungi mama saya, suami dan anak-anak saya.
 
Yah..Semua manusia pasti akan meninggal, hanya cara meninggalnya yang berbeda-beda. Jika harus dilalui dengan sakit kritis dulu selama bertahun-tahun tentunya akan sangat menguras biaya. Lalu jika yang meninggal adalah pencari nafkah tunggal, bagaimana dengan anak-anak yang ditinggalkan? Mereka berhak mendapatkan penghidupan yang layak, dosa bagi orangtua yang tidak mempersiapkan "perlindungan" bagi anak-anaknya. Semoga apa yang jadi pengalaman keluarga saya ini bisa menginspirasi orang lain.

dedicated to my parents. @2013


Sabtu, 05 Oktober 2013

Testimoni Tentang Etios Valco Toyota

Akhirnya pake sedan lagi.. meski sekarang sedan hatchback. Jadi ceritanya sekarang saya pakai mobil Etios Valco keluaran Toyota yang diproduksi tahun 2013. Pertama kali nyetir mobil ini sih menurut saya biasa aja, alias ga ada yang spesial banget dari mobil ini. Tapi ya biar lebih detail mungkin saya perlu jembreng opini saya sebagai pengemudi wanita, akan kesan-kesan pakai mobil hatchback yang katanya adiknya Toyota Yaris ini. Tapi tentunya ulasan atau opini saya ini berdasarkan kacamata saya pribadi sebagai seorang pengemudi wanita yaa.. (yang ga setuju, ga boleh protes!)

Terus terang pertama kali memutuskan membeli Etios Valco adalah karena harganya yang saat itu pas dengan budget, kedua karena brand yang (katanya) jadi jaminan akan kualitas, ketiga karena cc mobil yang ga besar dan berpengaruh ke tingkat konsumsi bahan bakarnya yang irit dan pastinya berpengaruh ke anggaran belanja saya, hehehe.. Singkat cerita, saya pun test drive mobil ini melalui dealer. Waktu pertama nyobain, saya nyobain mobil Etios Valco type G, type tertinggi untuk varian ini. Untuk persneling dan koplingnya, menurut saya cukup nyaman, meski agak tinggi. Biasanya untuk pengemudi wanita apalagi yang biasa pakai mobil matic, ini akan butuh penyesuaian beberapa saat atau bahkan rada lama? Ask them. Untuk setirnya, ini enteng banget loh! Saya yang biasa pake Innova, alias mobil yang tinggi, bener-bener harus banyak menyesuaikan, kalo ga bisa kacau tuh mobil.

Untuk kelasnya yang 1200 cc, mobil ini menurut saya bisa sangat lincah di jalanan, khusus saat dipacu di jalan tol yang ga terlalu ramai ya. Buat selap selip dengan kecepatan 120 km/jam sangat stabil. Dipacu sampe 140 km/jam pun mungkin masih asik aja ya, mungkin sedikit mengaum aja kali ya. Bahan bakarnya sih menurut saya irit ya sesuai cc lah, 1:14an lah kira-kira. Untuk empuknya mobil, menurut saya juga standar aja bahkan mungkin kurang empuk ya.. tapi kalo masih baru sih biasanya ya bagus-bagus aja. Sementara untuk audio car-nya, speaker ternyata hanya terdapat di dashboard dan pintu kiri dan kanan, artinya suara audio untuk di kursi bagian belakang, menjadi tidak maksimal. O iya, kalo hujan, sabetan wiper-nya yang hanya single wiper ini, sapuannya mantap betul! Hanya sayang kalo pas hujan, di kabin dalam agak berisik ya karena kap atas terkena terpaan air hujan, apalagi kalo hujannya deras.O ya, ga demen banget dah denger suara klaksonnya.. cemen banget! hihihi..

Nah untuk interior nih, ini juga so-so aja, dengan posisi speedometer di tengah, sebenernya saya ga gitu suka dengan posisi speedometer yang ditengah, tapi karena bawaan pabrik mau gimana ya. Untuk joknya, cukup empuk dan nyaman untuk diduduki. Tetapi  bahan joknya yang kain dan berwarna hitam, bikin saya ga nyaman karena khawatir joknya cepat kotor dan debu akan terlihat sekali. Apalagi untuk ibu beranak 2 balita kayak saya, wah extra deh watirnya. Makanya saya modifikasi sarung joknya. Nanti liat foto aja ya hasilnya. Untuk kelas sedan hatchback, Etios Valco ini tergolong sangat lega loh mobilnya. Untuk suami saya yang tingginya 180 cm aja, saat nyoba duduk di kursi belakang, kakinya masih nyaman aja alias bisa nyender dengan nyaman ga terlampau tegak duduknya, karena harus ngepasinya posisi dengkul.

Untuk eksterior, menurut saya sangat manis sekali, bahkan untuk saya yang tomboy mobil ini jadi terlalu perempuan. Makanya saya sama suami sepakat untuk bikin dia rada tomboy, sesuai karakter nyonyanya.. hehehehe.. Mau liat hasil modifikasi saya? Inspirasinya lihat-lihat modifikasi yang ada di internet dan model mobil Etios di India yang kalo disana namanya Etios Liva. Tapi secara general tentang Etios Valco ini, saya suka!  Semoga tulisan ini bisa jadi referensi ya.. :)

Tampilan depan yang dipasangi sticker scothlite + "eyeliner" hijau biar lebih catchy

Tampak belakang yang juga dikasih sedikit modifikasi sticker dibagian pintu bagasi

Tampak samping dengan tambah sticker sportivo


Interior jadi lebih tomboy dengan kombinasi jok merah dan abu-abu

Interior Etios Valco jadi lebih catchy dan hits
Btw, lagi naksir berat sama salah satu mobil dengan kapasitas cc dan penumpang lebih gede, jadi ada rencana pengen ganti. Kali aja ada yang minat, ambil si Bodas (nama etios valco saya ini). Btw sekarang tampilan body si Bodas ini seperti di foto dibawah ini ya.. ^_^


Kamis, 20 Juni 2013

Berikan Pengalaman Baru dan Seru Untuk Anak

Terus terang yang mengilhami saya menulis kali ini adalah obrolan dengan salah seorang teman tadi pagi. Jadi ceritanya teman saya ini ingin mengikutsertakan anaknya dalam lomba modelling. Tetapi teman saya ini ga yakin anaknya mau dan bisa ikut lomba ini. "Nanti pas dia ga mau tampil malah malu-maluin.." begitu kira-kira kata teman saya. Saya justru senang sekali teman saya mau menceritakan hal itu kepada saya. Karena terus terang, menurut saya, itulah masalah kita sebagai orangtua, yang kadang terlalu takut untuk memberikan pengalaman baru dan seru untuk anak-anak kita.

Loh kok begitu Nit..?? Hehehe.. Coba deh, dibaca lagi tulisan saya diatas. Lombanya aja belum mulai, tapi ortunya udah khawatir duluan. Padahal belum tentu juga kan anaknya akan ngambek dan ga mau tampil. Lalu kekhawatiran orangtuanya bahwa takutnya nanti anaknya ga mau tampil dan lain-lain, itu juga menurut saya adalah ketidakpercayaan si orangtua akan kemampuan anaknya. Percaya atau tidak, tanpa disadari kita sendirilah yang menanamkan rasa ketidakpercayaan diri pada anak kita. Padahal seharusnya, menjadi tugas kitalah selaku orangtua, untuk memberikan rasa nyaman, rasa percaya diri dan memberikan kebebasan bagi anak kita untuk mengekspresikan minat dan bakatnya. Karena ketika anak bisa mengekspresikan itu dengan baik, maka kita sebagai orangtua pun akan lebih mudah mengetahui minat dan bakat anak, untuk kemudian kita arahkan menjadi lebih baik dan serius. Karena tidak menutup kemungkinan kan, ketika dewasa, hal tersebutlah yang akan menjadi profesi dan ladang periuk nasi anak kita.
Nadeem saat ikut lomba modelling.

Saya sedikit mengulas lagi, saat anak saya Nadeem (5 thn) mau saya daftarkan ke lomba modelling, saya tanyakan kepada anak saya, apakah dia mau ikut lomba itu. Anak saya malah bertanya, lomba apa itu? Karena anak-anak, tentunya mereka tidak cukup hanya dijelaskan dengan bahasa verbal saja, maka saya pun mencari video-video fashion anak di internet, dan anak saya pun paham. Dia pun setuju untuk ikut lomba, bahkan dia yang malah jadi ga sabaran untuk segera ikut lomba. Saat lomba, bukan menang kalahnya yang menjadi poin utama saya, tetapi memberikan pengalaman baru dan seru untuk anak saya lah poin utamanya. Banyak hal seru yang saya dan anak saya lakukan, termasuk mempersiapkan wardrobe-nya untuk lomba, hahaha seru deh.. semua baju dicobain, lalu difoto biar nanti untuk banding-bandingin. Lalu mengikuti lomba itu sendiri adalah yang pertama kali untuk anak saya, dan itu menjadi hal baru baginya. Tampil di depan ribuan pasang mata pun mungkin tidak pernah dia bayangkan, tetapi itu harus dia lakukan sebagai konsekuensi bagi pilihannya untuk mengikuti lomba itu. O iya, anak saya ikut lomba Gading Model Search (GMS) Kids Category, yang jadi bagian dari festival besar tahunan Jakarta, yaitu Jakarta Fashion & Food Festival. Saya tau betul ini kompetisi yang bagus dan berkualitas, ga asal seperti kebanyakan EO ngadain lomba modelling.

Hal-hal tersebut diataslah yang kemudian menginspirasi saya untuk bisa berbuat lebih banyak untuk anak-anak di lingkungan sekitar saya. Saya merasa, memang tidak banyak event yang baik, memberikan pengalaman baru dan seru bagi anak saya. Hal itu lah yang mendorong saya untuk membuat event-event anak yang bisa menjadi wadah positif bagi si anak dan sekaligus menjadi sarana belajar bagi orangtuanya. Termasuk saya juga loh! Coba, ketika anak kita ngambek ga mau tampil atau menangis karena grogi, kita sebagai orangtua justru sedang dikasih pelajaran kan, yaitu pelajaran bersabar menghadapi anak yang ngambek, pelajaran kreatifitas untuk mengalihkan perhatian si anak, sehingga dia tidak perlu menangis lagi, dan meyakinkan si anak, bahwa dia bisa dan dia mampu.

BuBu Organizer yang saya dirikan bersama teman saya pun, kami dedikasikan untuk fokus kepada event-event anak dan keluarga. Seperti event kami di bulan Ramadhan mendatang. Kami menggelar Ramadhan Kids Fair & Competition di Bekasi Square, mulai 15 - 21 Juli 2013. Berbagai lomba anak kami gelar, seperti Lomba Menggambar & Mewarnai tingkat TK - SD dengan tema "I Love Allah & Muhammad", kami tidak batasi anak dengan berbagai aturan, dan menggabungkan tingkat TK dan SD. Niatnya adalah agar para anak ini bisa saling memotivasi. Kalau kata si kakak yang di SD,"Wah, dia anak TK gambarnya bisa bagus, masa' aku yang udah SD ga bisa bagus.."  Lalu si adek yang di TK bilang begini,"Walaupun aku masih kecil, bukan berarti aku ga bisa bikin gambar seperti kakak yang udah SD kan.." Kira-kira itu niat kami.

Lalu lomba Adzan tingkat SD. Saat ini sudah jarang sekali terdengar ada lomba adzan kan, apalagi di Mall. Mungkin ini yang pertama di Bekasi :) Dan yang terakhir lomba Fashion Show Busana Muslim Anak, karena memang event ini bertema Ramadhan. Untuk Anda yang punya visi yang sama dengan saya, mungkin bisa bergabung di event ini, dengan melibatkan putra putrinya ikut lomba. Info lengkapnya bisa klik link ini :
http://kunitapro.blogspot.com/2013/06/ramadhan-kids-fair-competition.html

Semoga tulisan saya ini bisa menginspirasi para orangtua Indonesia yang lain.

Selasa, 28 Mei 2013

Lomba Model Anak Sarana Tambah Wawasan Anak

Beberapa hari lalu anak saya Jamael Nadeem Omero (5 thn) sudah selesai mengikuti babak Grandfinal Gading Models Search Kids Category-nya JF3 (Jakarta Fashion & Food Festival) 2013. Tepatnya di Mal Kelapa Gading Jakarta, Minggu 26 Mei yang lalu. Ada hal yang saya cermati dan pelajari dari kegiatan itu. Pastinya adalah betapa bangganya saya akan anak saya Nadeem yang sudah berani menyelesaikan "pertarungan" hingga selesai, meski saya tau pasti anak saya nervous. Ya iyalah.. ini merupakan kali kedua dia tampil di depan hampir 1000 orang secara single fighter. Karena waktu babak penyisihan, kebetulan Nadeem bersama dengan 4 orang temannya yang lain, sehingga mungkin dia tidak terlalu gugup. Sementara di babak Grand Final kali ini dia benar-benar sendiri.

Sejak awal datang, saya betul-betul memberikan ruang baginya untuk beradaptasi dengan panggungnya yang megah, dengan lingkungan sekitarnya (karena semua anak-anak yang ada disana tidak ada satu pun yang dia kenal) dan pastinya dengan dirinya sendiri, yaitu bagaimana dia membuat dirinya merasa nyaman dengan semua situasi saat itu. Seperti biasa, anak saya tidak terlalu sulit untuk beradaptasi dengan lingkungannya dan hanya dalam beberapa menit saja, dia juga sudah akrab dengan beberapa peserta lain yang juga bermain disana. Saat panitia mulai mengundang anak-anak untuk menduduki kursi peserta, saya pun membiarkan dia sendiri, tanpa ikut campur. Karena saya pikir sudah ada panitianya yang mengatur dan saya pun cukup mengawasinya dari jauh saja. Pada saat itu, Nadeem masih terlihat tenang saja, masih bisa tertawa dan bercanda dengan peserta lainnya.
Nadeem (tengah) posturnya paling kecil diantara peserta lainnya.

Bisa dibilang yang nervous malah saya dan mama saya yang juga sengaja hadir untuk melihat penampilan cucu sulungnya ini. "Kak, kenapa sih Nadeem ga dipakein kostum juga kayak anak-anak yang lain, kan bagus-bagus tuh bajunya.. Kan kasian Nadeem, dia doang yang bajunya biasa aja..", begitu kata mama saya begitu melihat penampilan peserta-peserta lain yang bisa dibilang niat banget, hehehe...  Saya pun cuma menjawab,"Iya tenang aja ma.. kakak niatnya memang bukan untuk Nadeem menang atau kalah, kakak pengen liat keberanian Nadeem untuk tampil didepan umum dengan apa adanya dia". Eh tapi behind the scene nih ceritanya, beberapa saat setelah Nadeem tampil, saya dipanggil panitia, katanya anak saya nangis. Setelah saya tanya kenapa, dia jawab,"Nadeem lapeerr.." hahahaha.. iya pasti laper ya, soalnya saat itu udah jam 2an dan dia emang belum makan siang.
Nadeem saat berjalan di Catwalk GMS Kids JF3 2013
Jamael Nadeem Omero (5th) saat Gladi Resik sebelum lomba mulai.
Nadeem saat babak penyisihan di La Piazza Kelapa Gading
Nadeem (kiri) bersama salah satu temannya saat babak penyisihan di La Piazza Kelapa Gading.

Memang sih, kalau selintas orang mungkin berpikir saya ngedaftarin anak ikut lomba model biar anaknya jadi model, masuk tv or majalah, jadi bintang iklan dan seterusnya. Well, itu salah. Motivasi saya untuk mendaftarkan anak ikut lomba modelling adalah, ingin memberikan pengalaman dan wawasan bagi anak saya. Agar ruang lingkup pemahaman dan wawasannya tidak terbatas. Karena jujur aja, saya dulu sampe mau kuliah, jurusan kuliah yang akan saya pilih cuma 2 yang saya minati, manajemen ekonomi dan hukum. Karena merasa ga ada pilihan saya pun berniat memilih manajemen. Alhamdulillah, ketemu dengan om yang berhasil "mengorek" minat saya dan menunjukkan jurusan yang memang tepat dengan minat saya yaitu Fakultas Ilmu Komunikasi, jurusan Jurnalistik. Cita-cita pun waktu itu saya ga begitu banyak tau profesi pekerjaan. Terbatas pada pengetahuan PNS atau pegawai swasta. Padahal pegawai swasta itu banyak banget yaa...

Atas pengalaman itulah, saya ingin memberikan pengetahuan dan wawasan yang seluas-luasnya bagi anak saya yang masih usia dini ini. Saya ingin anak-anak saya kelak sejak usia dini sudah tau mereka ingin menjadi apa dan bagaimana untuk mencapai cita-cita mereka. Yaa.. kalo yang pernah dengar talkshow-nya Ayah Edi, anak harus diberikan wawasan dan motivasi agar mereka mau belajar dan berusaha mencapai apa yang jadi cita-cita dan keinginan mereka.

Kembali ke anak saya yang sudah berhasil menyelesaikan Grand Final lomba modelling GMS Kids JF3 2013. Sejak awal anak saya adalah pemenang buat saya.. hahahaha, ini cara klise emak-emak untuk nyenengin hati kalo anak ga menang. Eh tapi serius loh.. niat mendaftarkan Nadeem ikut lomba adalah biar dia punya pengalaman. Sebelum mendaftar pun, anaknya saya tanya dulu, dan dia pun bertanya balik ke saya apa itu lomba modelling. Setelah dijelaskan dan dikasih liat berbagai foto dan video modeling, dia tertarik dan mau ikut. Bahkan dia juga yang nanya bolak balik kapan lombanya mulai.

Intinya, saya betul-betul bangga dan terharu melihat anak sendiri yang baru umur 5 tahun 1 Mei lalu, berani tampil apa adanya, ga ada rasa minder dengan peserta yang lain meski wardrobe-nya biasa banget dibanding peserta lain yang heboh dan mewah. Saya ingat, dulu waktu saya TK, saya juga pernah diikutsertakan lomba menyanyi, begitu menjelang giliran saya, saya nangis merengek ke guru saya, untuk tidak usah tampil karena saya takut. Saking gugupnya saya menangis sampe sesenggukan dan gemeteran. Akhirnya saya pun ga jadi tampil di lomba itu. Untungnya guru saya ibu Mus (kalo guru baek pasti diinget sama muridnya :D), dengan bijaknya membujuk saya untuk tidak perlu menangis, bahkan saya diantar pulang langsung pake motornya si ibu. Kejadian grogi dan gugup naik panggung itu, masih saya alami hingga SMA. Makanya saya begitu takjubnya melihat anak sendiri bisa sebegitu tenangnya menjalani semua tahap lomba, meski saya tau betul anak saya juga grogi.

Inti dari tulisan saya ini adalah agar kita sebagai orangtua tidak terjebak dengan keinginan dan cita-cita kita pribadi. Kalo kata orang obsesi emaknya ga kesampean, anaknya yang disuruh nerusin.. hihihihi.. Insya Allah saya pun juga ga kejebak, tetap dengan niat dan tujuan untuk menjadikan anak cerdas, bukan sekedar pintar diatas kertas, tetapi cerdas secara emosional dan juga IQ-nya. Semoga tulisan saya bisa memberikan motivasi bagi para orangtua lainnya.






Mendidik Anak Untuk Bahagia

Add caption Beberapa hari lalu, tepatnya pas anak-anak didik saya di SFC Kids Futsal latihan, ceritanya saya membagikan piala yg sudah ...