Senin, 16 Juni 2014

Akankah Ku Bisa Mengantarnya Wisuda?

Ilustrasi foto. Acara kelulusan TK yang saat ini sudah pakai ritual wisudaan juga :)

Betapa lucunya melihat foto anak-anak kecil yang berbalut baju toga ini.. Rasanya waktu jaman saya TK dulu ga ada tuh pake-pake acara wisudaan ala orang kuliahan kayak jaman sekarang.. hehehehe.. agak ngiri dikit. Tapi kalo mau dipikir-pikir lebih jauh lagi, hari ini kita bisa anterin anak menghadiri acara wisuda TK-nya. Menurutmu, yakin saat wisuda kuliahnya nanti kita bisa anterin mereka lagi? atau.. Yakin anak kita nanti bisa kuliah?Masih ingat berita tentang Raeni, anak tukang becak yang berhasil kuliah? (baca: http://www.antaranews.com/berita/438325/anak-tukang-becak-jadi-wisudawan-terbaik ). Saya rasa, kita punya situasi yang jauh lebih beruntung dari mereka. Beberapa pertanyaan ini tiba-tiba menghampiri benak saya, saat saya menyaksikan anak saya yang pertama berjalan di atas panggung dengan baju Toga-nya. Subhanallah.. merinding saya. Saya membayangkan kira-kira apakah Tuhan akan kasih saya usia yang bisa saya pergunakan untuk menjaga, mendidik dan mengantarkan anak-anak saya ke tingkat kuliah, hingga mereka dapat mandiri memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri..?

Saya saat berusia 1 tahun, 17 tahun dan 22 thn.
Ingatan saya pun terbang ke masa saya kecil dulu, teringat ibu saya yang menurut saya memiliki cita-cita yang mulia sekali terhadap anak-anaknya. Sejak saya masih bayi, ibu saya rupanya sudah bercita-cita supaya saya bisa menjadi seorang sarjana (Lihat foto). Cita-cita itu pun akhirnya saya ketahui ceritanya setelah saya betul-betul menyelesaikan kuliah dan menjadi sarjana. Kira-kira begini kata ibu saya,"Kak, masih ingat ga sama foto kakak yang masih umur 1 tahun pake topi toga..? Itu dulu waktu kakak ultah 1 tahun, mama sengaja bikin topi toga, mama bikin sendiri karena emang ga ada yang jual topi toga anak-anak. Mama pengen kakak nanti besarnya bisa jadi sarjana, Alhamdulillah sekarang cita-cita mama sama papa tercapai, makanya ini foto kakak yang udah beneran jadi sarjana, mama tempelkan juga di foto ini..". Dulu saat pertama kali mendengar cerita itu dari ibu saya, saya tidak terlalu merasa terharu. Tapi hari ini.. setelah saya sendiri punya anak, dan melihat anak saya memakai pakaian Toga, saya menjadi sangat melankolis alias sangat terharu. Haru bangga dan sedih yang bercampur aduk, haru melihat anak saya yang akan segera lanjut ke jenjang SD, haru karena teringat ibu saya yang berhasil mengantarkan saya menjadi diri saya hari ini, dan sedih ketika menyadari ada satu pertanyaan yang tidak bisa saya pastikan jawabannya.. Apakah saya akan sampai pada hari dimana anak saya akan wisuda sarjana kelak?? Anda pun pasti tidak bisa menjawabnya.

Sedikit mengenang masa kecil saya. Ibu saya adalah seorang ibu rumah tangga tulen, yang betul-betul mengabdikan hidupnya untuk suami dan anak-anaknya. Ibu saya hanya mengandalkan penghasilan dari Bapak saya. Untungnya ibu saya seorang yang pandai sekali menyisihkan uang. Sehingga sejak saya dan ketiga adik saya masih kecil-kecil, ibu saya sudah membuatkan tabungan masing-masing untuk kami. Tabungan pendidikan anak kalo kata ibu saya dulu. Waktu kecil, ibu saya memang sangat ketat dan tidak pernah lelah mengingatkan saya dan adik-adik untuk rajin belajar, biar pintar dan bisa sekolah di negeri. Dan benar saja, saat saya masuk kuliah, orang tua saya tidak menemukan masalah berarti dalam memenuhi biaya kuliah saya. Karena selain saya masuk kampus negeri, ternyata nilai-nilai saya waktu kuliah membuat saya berhak mendapatkan beasiswa, baik dari kampus dan dari kantor bapak saya. Alhamdulillah..

Singkatnya, di akhir tahun 2003, tepatnya di hari kedua lebaran Idul Fitri, kami sekeluarga besar diberikan cobaan yang teramat tiba-tiba. Malam kedua lebaran, sesaat sesudah bubaran kumpul keluarga atau sekitar 2 jam setelah bubar acara kumpul keluarga, bapak saya meninggal. Prosesnya pun sangat cepat dan tidak ada yang menduga sama sekali, karena sebelumnya bapak saya masih minta diambilkan makan ke ibu saya, setelah itu beliau merokok keluar, lalu masuk lagi untuk menunaikan ibadah sholat Isya yang dilanjutkan bapak saya minta tolong untuk dipijitin sama ibu saya. Disitulah tiba-tiba bapak saya seperti orang ngorok menjatuhkan badannya ke ibu saya, dan meninggal dalam perjalanan menuju Rumah Sakit. Berdasarkan diagnosa dokter sepertinya bapak saya terkena serangan jantung. Wallahu'alam bissawab..

Hari ini, saya seperti mengevaluasi kehidupan keluarga kecil saya dan keluarga orang tua saya. Saya berpikir, waktu itu bapak saya meninggal di usianya yang seminggu lagi akan menjadi 51 thn, meninggalkan 1 orang istri yang merupakan ibu rumah tangga tulen, 4 orang anak yang 1 mau naik SMA, yang 1 mau masuk kuliah, yang 1 sedang kuliah dan terakhir saya sedang penyusunan skripsi. Saya berpikir bagaimana ibu saya bisa menghidupi anak-anaknya yang masih butuh biaya sekolah ini..? Ternyata ibu saya meski hanya seorang ibu rumah tangga, bukan seorang wanita karir loh.. sangat pandai menyimpan dan menyisihkan uang. Menurut ibu saya, untuk biaya sekolah anak-anaknya hingga selesai, beliau sudah mempersiapkannya. Hanya untuk hari-harinya yang mengandalkan gaji pensiunan seorang PNS. Di saat ternyata masih kurang pun, ibu saya terpaksa menjual aset-aset simpanannya seperti perhiasan emas. Ya, ibu saya seorang yang konvensional, dia menyukai menabung dengan cara deposito dan membeli emas perhiasan sebagai simpanan yang juga bisa digunakan sewaktu-waktu. Dan memang benar, hal itu dibuktikan dengan Alhamdulillah ke-4 anaknya saat ini sudah menjadi sarjana semua, dan sudah bisa mandiri semua. Meski beberapa aset keluarga seperti Rumah dan sejumlah perhiasan serta deposito sudah dijual dan dicairkan ibu saya, demi kelangsungan hidupnya dan anak-anaknya. Tapi kan itu cerita ibu saya, yang Alhamdulillah sampai tulisan ini saya buat, beliau sehat wal'afiat.. bagaimana saya dan suami saya atau Anda dan pasangan Anda..? Apakah jalan yang digariskan-Nya sama dengan apa yang kita rencanakan..??
Foto saya dengan Toga saat usia 1 thn dan dengan Toga yang sesungguhnya. 




Kembali ke kehidupan saya sendiri hari ini. Saya pun bertanya pada diri saya sendiri.. Kehidupan yang seperti apa yang saya harapkan kelak di masa tua saya nanti? Seberapa besar keinginan saya untuk membuat anak saya bisa memiliki pendidikan setinggi mungkin..? Dan yang paling penting, jika ternyata nanti waktu saya dan suami tidak sampai pada masa dimana anak-anak kami akan wisuda dan berkeluarga sendiri, bisakah mereka tetap bersekolah atau kuliah dan bahkan hidup layak minimal seperti yang sudah mereka rasakan hari ini..? Sangat tidak fair dong, kita minta anak kita belajar keras, supaya dapat nilai bagus, biar bisa sekolah setinggi mungkin di kampus negeri. Tetapi ketika mereka sudah benar-benar belajar keras, mengikuti nasehat kita, dan berhasil masuk kampus favorit, namun saat waktunya mereka mau kuliah, kita orangtuanya beralasan, kita tidak punya uang yang cukup karena berbagai alasan. Adil kah untuk mereka? Apa yang sudah Anda lakukan untuk mereka orang-orang yang (katanya) utama dan diatas segala-galanya ? Sudah mencukupi kah?

Alhamdulillah, keluarga kami sekarang sudah merasa lebih tenang ditengah ketidakpastian yang sudah pasti, karena membuat satu perencanaan keuangan keluarga yang In sha Allah menjadi solusi bagi kami sekeluarga dan bahkan jutaan keluarga diluar sana. Anda pun bisa punya rencana keuangan seperti yang kami miliki..? Sangat mudah dan sederhana.. sesederhana saat kita keluarkan uang di hari weekend bersama keluarga. Ayo deh kita ngopi bareng, untuk sharing informasi dan sharing rencana masa depan keluarga yang seperti apa yang diharapkan. Perencanaan Keuangan itu adalah memastikan yang belum pasti di masa mendatang dan bahkan beberapa jam atau menit ke depan. Setuju ? 

وَالَّذِينَ يُتَوَفَّوْنَ مِنْكُمْ وَيَذَرُونَ أَزْوَاجًا وَصِيَّةً لِأَزْوَاجِهِمْ مَتَاعًا إِلَى الْحَوْلِ غَيْرَ إِخْرَاجٍ ۚ فَإِنْ خَرَجْنَ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ فِي مَا فَعَلْنَ فِي أَنْفُسِهِنَّ مِنْ مَعْرُوفٍ ۗ وَاللَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ
Dan orang-orang yang akan meninggal dunia di antara kamu dan meninggalkan isteri, hendaklah berwasiat untuk isteri-isterinya, (yaitu) diberi nafkah hingga setahun lamanya dan tidak disuruh pindah (dari rumahnya). Akan tetapi jika mereka pindah (sendiri), maka tidak ada dosa bagimu (wali atau waris dari yang meninggal) membiarkan mereka berbuat yang ma´ruf terhadap diri mereka. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. 
240
Al Qur'an surat Al-Baqarah ayat 240 terjemahan Indonesia 
Mampukah kami melengkapi foto ini? Adakah kami juga akan ada difoto tahun 2030 itu?

Sabtu, 05 April 2014

Jangan Doakan Saya Panjang Umur, tapi..

Alhamdulillahirobbil 'alamiiin.. Terima kasih ya Allah, atas izin-Mu memberikanku kehidupan layak dan kebahagiaan bersama orang-orang yang aku cintai. Ya, hari ini 6 April 2014, usia saya genap 33 tahun (meski tgl peluncuran tulisan ini tertera tgl 5,mungkin perbedaan waktu dgn luar negeri kali ya..).  Well, sengaja dengan jelas saya sebutkan supaya saya selalu mengingat, bahwa saya sudah hidup di dunia ini selama 33 tahun. Lalu apa yang sudah saya hasilkan di usia tersebut? Jawaban atas pertanyaan ini, jika ini ditanyakan beberapa tahun yang lalu, mungkin jawaban saya masih melulu materi, yaitu gaji saya di usia sekian cuma sekian.. karir saya di usia sekian masih sebagai kroco yang dibatasi dengan berbagai aturan dan seterusnya. O iya, jangan tersinggung buat yang baca kalimat terakhir ini, ini saya berbicara tentang diri saya, dan jika Anda saat ini masih disana, bukan salah Anda juga. Keadaan lah yang membuat kita ada disana. Beruntungnya saya, saya sudah keluar dari sana, dan semoga teman-teman dan saudara-saudara saya bisa segera menyusul. Sekali lagi, tulisan ini adalah tentang saya, bukan tentang orang lain.
Selalu ada moment potong kue dan foto bersama keluarga.

Kembali ke pertanyaan Apa yang sudah saya hasilkan di usia saya saat ini? Jawaban atas pertanyaan tersebut hari ini adalah, sudah berapa banyak kebaikan dan hal bermanfaat untuk orang lain yang sudah saya buat? Ya, pertanyaan yang dijawab kembali dengan pertanyaan. Untuk beberapa orang yang baca ini mungkin akan komentar,"Ah basi lu Nit..". Well, saya ga minta orang komentar dan saya pun masa bodoh dengan pemikiran orang. Saya ya saya, saya tau apa yang saya mau dan apa yang harus saya lakukan untuk mencapainya. In Sha Allah.. :)

Mungkin titik baliknya adalah saat saya memutuskan berhenti dari dunia kerja kantoran, di saat suami saya Alhamdulillah bisa handle semua kebutuhan materi keluarga secara penuh, sehingga saya sebetulnya ga perlu bekerja lagi. Tetapi selama beberapa bulan full dengan urusan rumah tangga dan anak-anak, ternyata malah membuat saya menjadi pribadi yang kurang baik, alias jadi gampang tersinggung, gampang capek karena stres dengan berbagai urusan rumah. Imbasnya.. anak-anak salah sedikit, marahnya saya bisa meledak, suami pun jadi ikutan kena imbas betenya. Wah! ini ga baik kalo dibiarkan. Makanya salut banget sama ibu jaman sekarang yang sanggup fulltime urus rumahntangga dan anak. Atas izin suami, saya pun mencoba membuat kegiatan sambilan berdasarkan hobi saya akan fotografi, dan dari sana pun berkembang banyak ide. Dari sana pula saya merasa ada perubahan pola pikir, yaitu dari mencari uang untuk kebutuhan menjadi mencari eksistensi diri. Lalu itu pun berkembang lagi menjadi, ingin menjadi pribadi yang bermanfaat untuk orang lain. Mungkin inpsirasinya juga muncul dari seorang Rapper dan Komika Indonesia yang lagi happening banget saat ini, dengan berbagai karya dan pemikirannya, Pandji Pragiwaksono. Kira-kira begini kata dia,"Saat ini bukan saatnya gue BEKERJA, tetapi saatnya BERKARYA".

Emang enak banget ya kalo orang sudah sampai pada titik itu. Saya mungkin belum sampai pada titik seperti si Pandji, tetapi minimal saya ingin bisa bermanfaat untuk orang lain, dan ternyata dengan kehidupan saya hari ini, yang merupakan emak-emak beranak 2, itu pun menjadi salah satu inspirasinya. Saya melihat perkembangan anak-anak saya hari ini, dan saya pun membandingkan dengan masa kecil saya dulu. Ada hal yang saya ingin anak saya bisa juga merasakan seperti halnya saya kecil dulu, dan ada hal yang justru saya ga ingin anak-anak saya mengalaminya. Apa itu? Ya simpelnya gini deh, saya melihat saat ini, ga banyak event anak yang bisa anak saya ikuti. Saya ingin anak saya ini bisa kaya akan pengalaman, saya ingin melengkapi masa bermainnya dengan berbagai kegiatan positif, tidak hanya dari sekolah. Dari pemikiran itu, terbentuk lah sebuah Event Organizer (EO) kecil-kecilan, bernama BuBu Organizer yang saya bentuk bersama dengan salah seorang teman yang juga sekaligus tetangga saya yang baik. EO ini sengaja saya khususkan untuk menangani event-event anak dan keluarga, karena background saya yang seorang Ibu Rumah Tangga dengan 2 anak yang masih kecil-kecil, tentu inspirasi eventnya lebih banyak datang dari anak. Seperti menangani event ulang tahun, sunatan, akikah, seminar parenting dan lain-lain. Beberapa event yang sudah EO saya selenggarakan pun bisa dibaca liputannya di blog saya www.kunitapro.blogspot.com

Sebelumnya saya membuat Bengkel Foto KunitaPro, inspirasinya adalah seringnya saya memotret berbagai kegiatan anak-anak saya hanya melalui HP, tetapi foto-foto itu semua hanya tersimpan di memori HP. Beberapa foto yang bagus dan unik pun dicetak, tetapi mau berapa banyak foto yang dicetak?? Akhirnya terpikirlah untuk mencetak foto unik tersebut ke berbagai media, seperti kaos, mug, sticker label, pin, gantungan kunci, kalender dan banyak lagi. Ternyata ini diminati banyak teman-teman saya yang akhirnya pun ikut pesan. Keuntungan yang ga seberapa terbayar dengan kepuasan hati saya melihat banyak teman-teman saya dan juga anak-anaknya yang merasa senang atas design saya.

Kembali ke makna ulang tahun saya tahun ini, jika sebelumnya saya ingin bisa BERMANFAAT untuk orang lain, maka hari ini pekerjaan baru saya lainnya--yang belum bisa saya publish secara gamblang tetapi beberapa orang dekat saya sudah tau pekerjaan baru saya itu-- adalah ingin bisa MEMBANTU orang lain. Ya di sisa usia saya sekarang, saya ingin bisa menjadi manusia yang lebih bermanfaat dan bisa membantu banyak orang. Saya percaya, rezeki Allah sudah atur untuk umat-Nya yang mau berusaha. Bekerjalah dengan sepenuh hati, bukan sesuka hati. In sha Allah bukan cuma dunia yang didapat, tapi juga akhirat. O iya, by the way, Alhamdulillah juga.. tahun ini genap 2 tahun saya memakai jilbab, semoga bisa lebih baik lagi ya. Jadi inget juga sama ceramah seorang ustadz di acara pengajian keluarga,"Doa minta dipanjangkan umur itu bukan doanya orang soleh.. Mintalah untuk diberikan keberkahan di sisa usiamu.. Untuk apa panjang umur tapi banyak berbuat dosa dan ga memberi manfaat buat orang lain..?". Alhamdulillah sempat mendengarkan tausiah itu ya.. words banget deh tuh kata si ustadz buat saya mah.. Tapi kalo lirik lagu Selamat Ulang Tahun, ada kata "...selamat panjang umur.." ya sudahlah ya, biarkan itu jadi PR pencipta lagunya hihihihih.. Ketika kita tidak ada lagi di dunia ini, ingin seperti apa orang mengingat kita? Seberapa banyak orang yang  dengan ikhlas bersedia mendoakan dan mengantar kita ke tempat peristirahatan terakhir? Subhanallah.. beri Aku kesempatan ya Allah untuk mempersiapkan itu semua..

Moment pertama kali memakai jilbab
Di akhir tulisan saya hari ini, doa dan syukur saya adalah, semoga Allah selalu memberkahi dan melindungi saya dan keluarga saya, selalu membimbing saya untuk menjadi manusia yang lebih peka dan peduli terhadap lingkungan sekitarnya, menjadi pribadi yang lebih tangguh dalam memperjuangkan hal baik demi kebaikan bersama, menjadi manusia yang pandai bersyukur dan mengambil hikmah dari semua kejadian serta menjadi seorang ibu/anak/istri/menantu/kakak/tetangga/hamba Allah yang solehah.. Aamiin.. aamiin..aamiin yaa Robbal 'Alamiin.. 




Sabtu, 01 Maret 2014

Surat Untuk Anakku




Hari-hari belakangan ini adalah hari yang menegangkan buat Mami. Kenapa? Karena surat keputusan dari SD Islam favorit yang sedang kita tuju, menyatakan kamu sebagai siswa Cadangan. Yah, keputusan itu keluar karena saking banyaknya peminat yaitu sekitar 150an anak yang ingin masuk sekolah ini, sementara kuota kelasnya hanya 96 kursi. Kalau di flashback ke belakang saat awal Februari 2014 kamu ikut tes saringan masuknya, kamu menjawab bahwa kamu bisa. Meski lalu malam harinya, tiba-tiba kamu cerita karena baru inget,”Eh Mi, kayaknya nadeem ada yang salah deh, harusnya dikurangin, Nadeem malah nambahin..”. Mami waktu itu cuma senyum, dan komentar,”Nah kan, itu pasti karena kamu ga konsentrasi dan ga focus sih.. Tapi ga papa lah yang penting kan udah usaha”. Sebetulnya yang bikin mami bangga sama kamu, bukan karena kamu bisa kerjain soalnya.. tapi karena kamu menyadari kesalahanmu dan mau mengakuinya. Ga banyak orang yang bisa melakukan itu nak.. dan kamu baru saja melakukannya. 

Mungkin ini adalah salahnya mami, yang ga daftarkan kamu les calistung seperti halnya anak-anak seusiamu. Meski sempat les, lalu karena kamu bosan mami pun ga paksakan kamu untuk lanjutkan. Hal itu karena mami mendapatkan banyak referensi dari Ayah Edy Parenting Komunitas yang menyebutkan bahwa anak-anak usia dini, tidak diwajibkan bisa calistung. Anak seusia kamu seharusnya tidak dibebankan dengan pelajaran calistung, tetapi justru banyak bermain. Apalagi dengan karakter kamu yang merupakan anak kinestetik. Hal itu pula yang membuat mami dulu ga mau mendaftarkan kamu ke SD Islam yang sekarang kasih kamu status Cadangan ini. 
Ini karena “keisengan” mami yang datang ke sekolah itu untuk tanya-tanya, jawaban salah satu gurunya seolah menyadarkan mami bahwa sekolah ini yang bisa jadi partner kita sebagai orangtua dan anak untuk menuju keluarga sukses dan bahagia. Kira-kira begini jawaban gurunya,”Yah anak-anak seperti anak ibu cukup banyak di sini, tetapi itulah tugas kami bu.. mengarahkan anak-anak yang tidak  bisa menjadi biasa, lalu dari biasa menjadi bisa..”. Subhanallah.. jawabannya seperti memberikan motivasi bagi mami saat itu nak. Makanya mami daftarkan kamu ke sekolah itu.

Banyak referensi parenting yang mami baca dan dengar, tetapi menurut mami pada akhirnya juga harus disesuaikan dengan kebutuhan keluarga itu sendiri dan pastinya tujuan akhirnya. Setiap orangtua punya cara dan tujuan masing-masing dalam mendidik dan mengarahkan anak-anaknya. Buat kami nak.. kami ingin suatu saat nanti, kalian akan menjadi anak-anak yang mendoakan kami dengan ikhlas dan tulus, memohonkan ampunan kepada Allah atas segala dosa dan khilaf kami. Kami ingin kalian jadi anak-anak yang nanti akan dengan bangganya menceritakan ke orang lain, bahwa kalo dulu tidak dididik seperti yang diajarkan orangtua kalian, kalian tidak akan menjadi orang sukses. Percayalah nak.. nilai sekolah yang besar, nama sekolah terfavorit, bukan menjadi modal utama untuk jadi sukses di masyarakat. Kami ingin kalian menjadi pribadi yang berahlak, pekerja keras dan tulus dengan attitude yang juga baik.

Waktu kamu bisa baca, mami senang. Tetapi sesungguhnya mami jauh lebih senang bahkan bangga, ketika suatu waktu kita jalan-jalan ke mall, tiba-tiba kamu berhenti dan bilang ke mami bahwa itu panggung mini-nya punya mall posisinya renggang, itu akan membahayakan orang yang melintas. Mami bilang biarin aja, sambil terus berjalan. Sementara, kamu tanpa disuruh berbalik ke arah panggung mini, dengan tangan kecilmu, kamu dorong panggungnya hingga rapat kembali. Lalu setelah selesai, kamu berlari mengejar mami yang sudah jauh berjalan didepanmu. Well, ga banyak orang yang mau peduli untuk suatu hal yang ga berhubungan langsung dengan dia. Sementara kamu, peduli dan ga butuh waktu lama untuk melakukan hal yang baik. Nak, kamu pun sudah mengajari mami 1 hal hari itu. Bukan hal yang mudah untuk mengajarkan anak untuk peduli, tetapi menjadi hal yang mudah bagi orangtua untuk memberikan contoh teladan yang baik ke anak. Karena anak akan mencontohnya dengan baik pula.  

Mami berharap suatu hari nanti kamu bisa membaca tulisan mami ini, bukan sekedar bisa membacanya, tetapi sekaligus memaknai lebih dalam lagi, apa yang menjadi keinginan mami sebagai orangtuamu nak.. harapan kami sebagai orangtuamu nak.. Apapun yang menjadi keputusan sekolah itu nak.. Mami tetap bangga sama kamu. Tidak semua yang kita inginkan dalam hidup ini adalah sesuatu yang kita butuhkan. Allah tau apa yang terbaik untuk kita.. dan apa yang terjadi  nanti, buat mami pastilah itu yang terbaik untuk kita, dan pasti ada hikmah dimana mungkin ada sekolah lain yang lebih baik untuk kamu.. Kita sudah menjadi teamwork yang juga sudah memberikan yang terbaik yang bisa kita lakukan. Tugas kita hanya berusaha dan berdoa, selebihnya biarkan Allah yang menentukan.. I love you, son..

March 2014. Dedicated to my son, Jamael Nadeem Omero Setianegara.





Rabu, 29 Januari 2014

Saya Memilih Jadi Orang "Bodoh"

Saya mungkin memilih jadi orang "bodoh", yang berpikir simple (cepat) dalam mengambil kesempatan dan memanfaatkannya semaksimal yang bisa saya lakukan, daripada menjadi orang "pintar" yang karena saking pintarnya, jadi terlalu banyak pertimbangan dan perhitungan untung rugi-nya atau bahasa saya enggan keluar dari zona nyaman, takut mencoba atau menerima tantangan baru. Sehingga akhirnya, ya ga jalan-jalan alias jalan ditempat. Sementara orang lain sudah melesat jauh didepannya, dengan kehidupan yang jauh lebih baik. Btw, pemikiran saya ini ternyata ga salah loh! Itu juga yang sudah dijalani lebih dulu oleh seorang pengusaha sukses Indonesia, Bob Sadino. (Lihat : http://www.youtube.com/watch?v=HKWHuYDKD60 )
Bob Sadino, Pengusaha Sukses Indonesia yang merupakan orang "Bodoh"

Saat tau tentang VSI VPay, saya hanya tau sedikit sekali tentang bisnis ini. Tapi karena ini dimiliki seorang ustadz terkenal dengan reputasinya sebagai ustadz yang sangat menitikberatkan pada sedekah dan otak pengusahanya.. apalagi ini modal awalnya cuma mulai Rp 275 ribu perak, what do you expect gitu loh! Saya langsung daftar. Waktu itu memang saya sempat punya cukup banyak pertanyaan dalam hati saya, beberapa langsung saya temukan jawabannya dengan browsing di internet, beberapa saya jawab sendiri tanpa berusaha cari tau, sebelum akhirnya memutuskan. Karena kadang makin banyak bertanya, malah bikin jadi ragu melangkah.

"Ah gue males ribet, tinggal sms si anu aja kalo pulsa gw abis.." Bener sih.. Tapi pernah terpikir ga, kalo pas kita butuh banget, si anu itu saldonya pas lagi habis, atau bahkan si anu itu ga jualan lagi dst. Gimana? Lalu bagaimana dengan tagihan lainnya..? Tetap harus ke masing-masing loket tagihannya kan..? Tau sendiri bo, saat bulan muda, bisa dipastikan semua bank, semua loket pembayaran tagihan bulanan selalu dipenuhi orang yang antri untuk juga melakukan pembayaran.Untuk setiap kali antri, minimal setengah jam harus Kamu siapkan waktunya. Kalo yang kerja..? Harus berkejaran dengan waktu makan siangnya, waktu tempuh menuju si loket itu dst. Bagaimana yang Ibu rumah tangga? Kadang suka ribet dengan si kecil yang ga mau ditinggal, akhirnya terpaksa diajak. Saat diajak eeehh si kecil ga betah karena kelamaan menunggu. Waah pokoknya ribet deh. Belum lagi kalo hujan dan banjir, makin repot kan untuk keluar rumah untuk bayar tagihannya.

"Gue kan udah pake mobile banking.." Wah bagus kalo begitu.. justru yang habit bayar tagihannya seperti ini, malah sangat cocok untuk gabung di VSI. Kenapa? karena dia hanya memindahkan mobile banking itu ke VSI, semua kemudahan yang dia dapatkan selama menggunakan mobile banking, bisa dia dapatkan di VSI. Bahkan ada bonus tambahan pula! Semua berpeluang dapat bonus, cashback dan poin reward. Sementara di Bank? Anda hanya dapat kemudahannya aja, bonusnya? boro-boro bonus, saking boro-boronya sampe ada guyonan temen saya begini katanya,"Boro-boro dapat undian berhadiahnya bank, hampir 20 tahun saya jadi nasabah bank anu, kalendernya pun saya ga pernah dapet, hahahahaha..". Bahkan temen saya sendiri pun menertawakan keapesannya selama nabung di bank. Padahal jumlah uang kita di bank kan menjadi salah satu faktor yang menentukan nasib sebuah bank. Mungkin kalo mau lihat perbandingannya, coba lihat gambar ilustrasi dibawah ini.
Gambar Ilustrasi Bedanya Mobile Banking dengan VSI Vpay
"Gue masih belum paham soal VSI, nanti aja deh.. lo aja dulu, kalo lo sukses, baru gue join", itu kira-kira kata saudara saya saat saya ajak untuk juga bisa mendapatkan semua kemudahan dan cashback yang sudah saya buktikan sendiri. Kalo yang ini sih, ya jadi DL deh alias Derita Lo kalo saya udah sukses terus situ baru mau join, bisa gigit jari situ, saat orang-orang sudah melesat lari jauh di depan, trus kita baru mau mulai, yang ada ngos-ngosan ngejarnya kan..  :)

"Emang sekarang berapa cashback yang lo dapat dari VSI ini?". Nah kalo jawab pertanyaan ini, jawabannya pasti tidak menarik, karena memang saya sendiri baru 1 bulanan bergabung. Sehingga cashback pun ya belum bisa dinikmati secara nyaman ya. Karena cashback itu baru ditransfer ke rekening pribadi sebagai deposit pribadi apabila sudah mencapai kelipatan Rp 150 ribu. Tapi buat saya, sejelek-jeleknya cara saya menjalankan atau mengembang unit usaha saya di VSI, ya saya bisa pakai sendiri kemudahannya, cashback-nya. Iya kan.. Masih mikir juga untuk bergabung sama saya? Coba lihat beberapa gambar penunjang ini :
Daftar Harga Paket Perdana Member VSI

Ilustrasi Gambaran Jumlah Downline sesuai Paket Usaha yang dipilih.


Ilustrasi Bonus Duplikasi Downline

Konsep Kerja VSI Vpay






Senin, 20 Januari 2014

"Ngebohong Salah, Jujur Malah Tambah Salah"

Mungkin ada yang pernah tau lagunya Slank yang judulnya "Balik Balikin", salah satu bait liriknya adalah "Ngebohong Salah, Jujur Malah Tambah Salah". Tiba-tiba aja liriknya ini yang terngiang di benak saya, saat pagi tadi perbincangan saya dengan putra sulung saya Nadeem (5thn). Ya, saya mendapati anak saya berbuat curang atas salah satu titipin uang tabungannya di sekolah, yang seharusnya ia setorkan ke gurunya. Saya sempat terpikir untuk marah, tapi langsung sadar, masih bagus anak saya jujur cerita ke saya. Kalo ga, mungkin saya ga pernah tau atas kesalahannya dan kalo sudah makin sering dan usia anak saya bertambah, pasti akan lebih sulit memperbaiki.


Ceritanya begini, pagi tadi (21/1/14) seperti biasa saya mengingatkan anak saya akan bekal makan siangnya dan apa aja isi tasnya hari ini, termasuk uang tabungannya yang harus ia setorkan ke gurunya. Saat saya ingatkan uang tabungannya, anak saya bilang ke saya,"Iya, tapi mami jangan bilang Bunda ya..", maksud anak saya, saya ga usah bilang ke gurunya kalau hari ini dia bawa uang untuk tabungannya. Nadeem ngomongnya dengan tenang dan pake senyum. Saya kan bingung ya, kenapa saya ga boleh bilang ke gurunya atas uang tabungan yang saya sisipkan di tasnya? Saya sempat mikir, sampe akhirnya nyambung dengan maksud perkataan Nadeem. "Loh! kenapa mami ga boleh bilang ke bunda? Kamu ambil uang tabungan itu untuk jajan ya??", selidik saya ke Nadeem. Saat itu ekspresi Nadeem berubah bingung, saya melihat mimik wajahnya dia merasa ga ada yang salah dengan yang dia lakukan. Dia sepertinya malah mikir, kenapa saya bertanya balik dengan sewot. Tapi anak saya tetap menjawab pertanyaan saya dengan jujur, dia bilang iya, dia mengakui bahwa dia pernah ambil uang tabungannya itu untuk jajan.

Lalu di mobil itu juga saya coba ingatkan anak saya, bahwa apa yang dia lakukan adalah salah, saya sampaikan bahwa sikapnya itu tidak bedanya dengan pembohong, pencuri dan apa yang dia lakukan adalah perbuatan tidak terpuji yang tidak disukai Allah. Kalau Allah marah, kita bisa dapat hukuman dari Allah, dan seterusnya. Tentu saya sampaikan dengan bahasa dan intonasi yang saya usahakan tidak menghakimi dia. Anak saya hanya diam mendengarkan, saya liat mungkin dia masih belum paham akan apa yang saya sampaikan. Karena mungkin dia pun merasa, tidak ada salahnya dengan apa yang dia lakukan. Sampai di sekolah, saya sampaikan cerita itu ke gurunya, tentunya tidak didepan anak saya. Saya minta gurunya, untuk bisa bekerjasama dengan saya sebagai orangtua untuk bisa mengingatkan anak saya lagi, atas kekeliruan yang dia lakukan. Karena terkadang, anak saya lebih bisa dengar kata gurunya, daripada kami orangtuanya.

Pelajaran yang saya dapat hari ini adalah, pertama saya sangat menghargai kejujuran anak saya. Entah akan seburuk apa dampaknya, jika saya tidak segera tau akan kecurangan anak saya. Kedua, saya pikir, anak saya mempercayai saya, sehingga dia minta saya untuk tidak bilang ke gurunya, soal ada uang tabungan. Dia pikir, saya bisa diajak kerjasama untuk menyembunyikan akal bulusnya. Ketiga, anak saya seorang yang cerdik (baca:cerdas). Kenapa saya bilang cerdik bukan cerdas? karena dalam kamus saya, cerdik itu biasanya kecerdasannya digunakan untuk hal-hal yang kurang terpuji, seperti bohong, cari modus biar ga kena hukuman. Sedangkan kalo cerdas, dalam kamus saya ya kecerdasannya digunakan untuk hal-hal yang positif, seperti misalnya anak saya jago merakit mainan atau bikin lego, bahkan jadi penunjuk jalan alternatif, kalo saya ga tau jalan menuju pulang. Ceritanya dia itu pulang sekolah langganan naik ojek, ojeknya suka ajak lewat jalan-jalan kecil yang baru dia tau, tetapi meski baru dia lewati, Nadeem hapal dengan rute itu. Kudu hati-hati nih mengarahkan anak seperti Nadeem.

Pelajaran lainnya, saya "membantah" lirik lagu Slank yang bilang "Ngebohong Salah, Jujur Malah Tambah Salah.." hehehehe.. Karena dulu jaman saya kecil, saya lebih suka bohong biar orangtua saya ga panjang nanyanya. Sekarang di saat saya punya anak, saya ingin justru anak saya paham dengan kalimat "Berbohong itu SALAH, bersikap Jujur adalah BENAR, meski kadang menyakitkan". Benar dan saya setuju dengan artikel Ayah Edi (baca : https://www.facebook.com/komunitas.sudahpenuh?fref=ts ) yang intinya bilang, Mental Ketidakjujuran adalah sumber bencana berantai sebuah negara. Prihatin dengan negara kita saat ini? Mau beresin negara? ya semua harus dimulai dari lingkungan terkecil, yaitu keluarga. Didiklah anakmu sebaik mungkin teman.. Selamat beraktifitas :) 

Sabtu, 11 Januari 2014

Susah Memilih Sekolah Anak?

Pusing dan galau. Kira-kira itu kata yang mewakili perasaan saya saat ini. Padahal ini bukan urusan yang gimana banget, tapi ini mengenai urusan pemilihan SD untuk anak saya yang In sha Allah tahun 204 ini masuk SD. Ternyata ga mudah milih sekolah untuk anak. Pertimbangannya ga cuma soal sekolah bagus dan biaya sekolahnya aja, tapi banyak lagi pertimbangan lainnya. Seperti, fasilitas sarana dan prasarana sekolah, SDM gurunya, jarak, waktu belajar, macam ekstrakulikuler, hingga lifestyle sekolah itu. Kenapa pula pake disebut lifestyle?? Ya iya dong, anak kita kan akan sekolah disana ga cuma 1 atau 2 tahun, tapi 6 tahun loh! dan artinya lingkungan itu yang akan jadi keseharian dia selain lingkungan rumah. Maka penting untuk kami selaku orangtua untuk memastikan lingkungan dan lifestyle seperti apa yang akan dihadapi anak kami. Karena itu juga jadi salah satu penentu kepribadian anak kami kelak.

Nadeem (6 thn) putra pertama kami, tahun ini mau masuk SD. Karakter anakku ini dibanding adiknya Hanif (3 thn) agak lebih nyeleneh. Maksudnya ya, Nadeem ini berdasarkan tes sidik jarinya dulu, merupakan anak dengan karakter kinestetik,  yaitu anak yang cukup banyak bergerak dan belajarnya tidak cukup hanya dengan visualisasi, tetapi juga motoriknya diberdayakan atau dengan kata lain praktek. (baca:  http://www.psikologizone.com/siswa-berkarakter-kinestetik-perlu-diperhatikan/065116867 ). Hal itu juga salah satu yang membuat saya jadi cukup berhati-hati milih sekolah untuk anak saya. Hasil tes sidik jarinya pun dulu menyarankan supaya anak saya ini, sekolah di sekolah alam. Well, itu satu hal baru untuk saya, selain metode belajarnya katanya beda dengan sekolah umum, sekolah alam yang bagus pun ternyata lokasinya ga dekat rumah saya. Satu hal yang juga harus jadi pertimbangan, saya ga mau anak saya udah stres duluan mau menuju sekolah, karena udah harus bangun pagi-pagi sekali untuk bisa berangkat sekolah, berpacu dengan kemacetan dan hiruk pikuk jalanan.

Akhirnya rencana untuk masuk ke SD alam sepertinya tidak bisa terealisasi. Akhirnya pilihan pun mengerucut lagi menjadi hanya 3 sekolah. Hal ini pun masih harus dibahas bersama, dengan suami dan anak saya. Disamping itu, mencari referensi pengelaman orang lain pun saya upayakan dengan ngobrol dengan teman yang anaknya sekolah di sekolah tersebut, atau bahkan browsing dari internet. Dari hasil ngobrol itu, menurut saya akhirnya pertimbangan memilih sekolah pun menjadi sangat kompleks. Mulai dari Gedung sekolah, sarana dan prasarana sekolah, SDM, keamanan, biaya sekolah, lokasi, jam belajar, kantin dan toilet serta lifestyle atau faktor lingkungannya. Saya pun untuk memudahkan identifikasinya sampe bikin tabel loh! Hihihi dasar emak-emak ya..

Rabu, 08 Januari 2014

Cara Gampang Bayar Tagihan Rumah Tangga

Jadi ingat tahun 2013 yang lalu saat jam 2 pagi listrik dirumah mati. Setelah dicek, ternyata pulsa listrik token dirumah saya habis, ya wajar aja listriknya mati. Karena itu jam 2 pagi, ga ada yang bisa saya lakukan selain menanti pagi. Kondisi mati listrik itu membuat AC ga nyala, sehingga panas dan nyamuk pun bermunculan, membuat saya harus selalu terjaga untuk ngipasin anak-anak yang jadi rewel karena kepanasan. Begitu pagi datang pun, saya harus mencari outlet penjualan pulsa listrik yang sudah buka.

Akhirnya ketemu dengan salah satu teman yang menjual pulsa HP dan termasuk pulsa listrik. Untuk sementara waktu, saya pun bisa lebih tenang, karena tiap kali pulsa listrik mau habis, saya tinggal sms temen saya ini. Tetapi kemudian itu pun tidak bertahan lama, karena ketika teman saya ini melahirkan, teman saya ini memilih off sementara jasa penjualan pulsanya, agar bisa fokus ke bayinya. Lagi-lagi saya kembali ke cara konvensional, yaitu pergi keluar untuk membeli berbagai jenis pulsa kebutuhan keluarga. Rada ribet sih, tapi ya mau gimana lagi?

Ilustrasi Beda Transaksi Konvensional, e-Banking & VPay
Lalu di internet saya membaca begitu banyak yang bahas VSI Virtual Pay. Saya bener-bener penasaran, apa sih itu? kayak apa sih cara kerjanya? (baca: http://vpay-network.com/?reg=deta ).   Saya tidak memikirkan bisnisnya dan akan sebesar apa bisnis ini berkembang. Bagi saya, teknologi dan sistem yang ditawarkan, yaitu bisa memberikan banyak kemudahan untuk saya dalam membayar berbagai tagihan dan pulsa keluarga, itu saja sudah cukup untuk saya. Tapi ternyata masih ada lagi benefit tambahan untuk saya, yaitu cashback untuk setiap transaksi yang saya lakukan melalui keanggotaan VSI yang saya miliki ini. Hal yang tidak saya dapatkan jika bertransaksi via ATM Bank, atau bahkan beli via outlet penjualan pulsa, yang ada malah dikenakan biaya administrasi atau harganya lebih mahal sekitar Rp 2.000 dari harga normal.

Sekarang untuk saya, membeli pulsa HP, beli pulsa listrik dan bayar tagihan telpon, ga perlu keluar rumah atau antri. Karena hanya dengan HP saya ini, semua bisa saya lakukan. Cepat, Nyaman dan Aman. Sebagai ibu-ibu, saya juga bisa hemat waktu (ga perlu antri lama), hemat biaya (ga kena biaya admin, ongkos bensin dan jajan karena kelamaan antri) dan bahkan dapat bonus berupa cashback (setiap transaksi langsung dapat cashback). Btw, suka ngeh ga, sekarang kalo belanja di minimarket berjaringan yang tiap 10 m ada itu, pas mau bayar suka ditawarin beli pulsa HP? Atau bisa beli tiket kereta di minimarket tersebut, beli pulsa listrik dll. Itu karena untuk setiap transaksi kita, minimarket tersebut dapat cashback. Meski nilainya kecil, hanya sekitar Rp 20 perak, kalau sehari x 20 pengunjung, lalu x 30 hari, dan kalikan lagi dengan ratusan gerai mereka yang tersebar hanya di satu kotamadya saja. Berapa ratus juta tuh hanya dari jasa e-payment itu?? Makanya kalo liat foto ilustrasi diatas, sengaja saya jembreng, kenapa perusahaan-perusahaan itu yang tersenyum. Nah di VSI, cashback yang masuk ke bank atau minimarket itu, "dikembalikan" kepada si pemilik dana yang bertransaksi, bahkan pemilik dana yang sudah membership VSI Vpay ini pun bisa mengembangkannya jadi sebuah bisnis dengan income ratusan juta /bulan. Tapi kalo saya sih ga muluk-muluk, cukup bisa bayar semua tagihan pribadi secara cepat, praktis, hemat dan pastinya aman saja udah cukup.

Tetapi, untuk setiap orang yang juga ingin punya kemudahan seperti yang saya dapatkan ini, lalu dia bergabung, maka saya pun dapat reward berupa komisi. Dan untuk setiap transaksi dari downline saya, saya pun menerima cashback. Anda pun juga bisa seperti saya, menguntungkan sekali ya.. :)  Dan yang pasti, saya suka dengan tagline bisnis yang dikembangkan oleh Ust. Yusuf Mansyur ini.. "Membeli Kembali Indonesia", patut didukung. (baca: http://klikvsi.com/company/ )
Jenis Paket Unit Usaha di VSI VPay, yang bisa disesuaikan dengan kemampuan dan kebutuhan

Buat saya ga ada ruginya beli membership VSI yang hanya senilai Rp 275 ribu ini. Manfaatnya betul-betul nyata untuk saya dan sudah saya buktikan. Saya tidak pernah mau ikut MLM yang sebetulnya malah membuat kita jadi konsumtif untuk beli produk, karena ada sistem tutup poin, daripada hangus dan harus ulang dari awal, member-nya rela belanja barang yang sebetulnya ga dibutuhkan. Nah, di VSI, sudah pasti akan ada transaksi setiap bulan, setiap minggu, setiap hari, bahkan setiap menit! Karena listrik, PAM, pulsa, cicilan itu semua kan pasti kita bayar setiap bulan kan?? Ga mungkin ga bayar..  Jadi, Anda BERGABUNG dengan saya dan VSI atau pun TIDAK,  saya bersama VSI akan terus berkembang, dimana saya akan ada income tambahan sekaligus punya kemudahan dalam bertransaksi apapun. Karena nantinya memang semua alat bayar akan tergeser oleh alat bayar seperti Virtual Pay (VP) dari VSI ini.

Well, ingin bisa dapat berbagai kemudahan dan benefit seperti yang saya dapatkan..? Silahkan hubungi saya dengan meninggalkan alamat email di kolom comment. Salam sukses 2014!



Mendidik Anak Untuk Bahagia

Add caption Beberapa hari lalu, tepatnya pas anak-anak didik saya di SFC Kids Futsal latihan, ceritanya saya membagikan piala yg sudah ...