Kamis, 04 September 2014

Masa Kecil Bahagia = Sukses?

Kamu pernah ga mengenang masa kecilmu? Coba bayangkan sejenak masa kecilmu, khususnya masa-masa indahnya, yang ga menyenangkan juga gapapa dikenang.. Lebih spesifiknya adalah momen-momen yang juga akhirnya membentuk dirimu seperti dirimu hari ini. Artinya itu adalah peran didikan orang tua, lingkungan sekitar rumahmu dan sekolahmu. Happy kah ketika mengenang masa itu? Saya berharap jawabanmu adalah "Ya, saya bahagia sekali dengan masa kecil saya" atau "Saya merasa beruntung telah dididik oleh orangtua saya". Pernahkan memikirkan kira-kira saat anak-anak kita dewasa nanti juga akan berkata hal yang sama seperti yang kita katakan hari ini kah? Bahwa mereka juga merasa bahagia dengan masa kecilnya. Saya berharap anak saya pun kelak akan mengatakan hal yang sama seperti saya rasakan hari ini.

Entah kenapa malam ini, saya tergerak untuk menulis ini. Ceritanya udah larut malam, suami belum pulang karena ada pekerjaan yang ga bisa ditinggalkan. Iseng karena saya belum mengantuk, pikiran melayang ke masa kecil saya dulu, lalu menghubungkan dengan kondisi saya hari ini, dimana sekarang saya pun sudah memiliki dua orang putra yang ganteng-ganteng, sehat dan aktif. Alhamdulillah..

Sedikit flashback ke masa kecil saya dulu. Saya dibesarkan di keluarga PNS yang berdomisili di kota Palembang, di tahun 80-an hingga 90-an, kota itu tidak pernah terjadi macet kalo ga karena ada kecelakaan. Alm. bapak saya, bisa pergi ke kantor jam 7.45 WIB dari rumah dan jam 5 sore sudah sampe rumah lagi. Kami tinggal di kompleks perumahan yang juga diisi oleh para PNS yang juga temen-temen kantor bapak saya. Anak-anaknya pun rata-rata sebaya dengan saya. Berbagai permainan tradisional dulu saya dan teman-teman saya mainkan. Mulai dari main kasti, cak ingkling, pantak lele, petak umpet lempar tumpukan kaleng, benteng, cabut (kalo di Jakarta dikenal dengan galasin), kelereng, dakocan, congklak dan banyak lagi. Kalo orang Palembang pasti ga asing dengan nama permainan-permainan ini.
Foto teman-teman kecil saya dulu, yang kiri foto lebaran 2014 lalu. Yang kanan foto tahun 1983.

Orang tua saya pun saat saya masih kecil dulu mewajibkan saya dan adik-adik saya ikut TPA, ditambah guru ngaji privat ke rumah. Lingkungan rumah yang bersebelahan dengan mesjid pun membuat saya minimal setiap sholat magrib, itu sholat di mesjid. Masa kecil saya tomboy sekali. Menjelang beberapa menit sebelum adzan magrib, saya biasanya sudah nangkring di mesjid, bukan karena ga mau telat sholatnya. Tapi karena saya mau duluan megang kayu pemukul bedug! Hahahahaha.. iya bener, saya yang mukul bedugnya sebelum adzan dikumandangkan. Hayoo.. kamu masih kecil pernah ga mukul bedug? Sayangnya saya perempuan, ga boleh adzan. Kalo perempuan boleh adzan, saya mau juga tuh adzan.. suara saya lumayan loh kalo adzan. Hihihihi.. :p

Saya dan adik saya, dengan latar belakang si Vespa kesayangan
Orang tua saya pun bukan dari keluarga yang sangat berkecukupan, sehingga hal itu membuat kedua orang tua saya saat baru menikah memang memulai kehidupan rumah tangga mereka dari nol. Saya ngerasain tuh masa kecil dibonceng pake Vespa sama bapak saya, berdua sama adek saya. Lalu bapak saya maksain beli mobil Carry tung-tung, karena dia takut jatuh saat naik Vespa bawa anak-anaknya, karena saya dulu lasak banget kalo naik motor, suka goyang-goyang dan suka ngantuk :p  Cerita dibalik mobil Carry tung-tung itu pun lucu banget, maksudnya bapak saya beli mobil biar ga kehujanan, ternyata saat hujan, mobil itu bocor. Wah kalo inget cerita ibu saya, jadi senyum-senyum sendiri deh. Maklum bapak saya dulu beli mobil ga ngerti mesin, taunya beli aja, surat-surat lengkap harga cocok, bayar. Dia ga cek tuh mesinnya, apalagi bocor yah..ga nyangka lah, hihihihi. Dan banyak lagi cerita seru lainnya. Lalu cerita ibu saya dulu kalo ke pasar (dulu belum ada mall), pasti naik oplet, karena ibu saya dulu belum bisa nyetir. Jadi saya sama adek saya dibawa naik si oplet itu. Lucunya lagi, kalo naik oplet, yang dipangku malah saya, karena adek saya gemuk, jadi adek saya justru yang mangku saya. Hahahaha.. Karena ibu saya pun suka pegel kalo mangku adek saya, jadi gantian deh tuh..

Ini dia, kenangan masa kecil yang beredar lagi di FB ^_^
 Belum lagi cerita lingkungan saya di sekolah, waah seru banget deh! Kalo yang seangkatan sama saya, mungkin inget dengan mitos kalo meruncing pensil, peruncingnya ga boleh ditiup, nanti tumpul. Sebuah mitos yang belum bisa dibuktikan sampe sekarang. Atau pergi ke sekolah bawa tas koper merk president? Ini tren-nya anak-anak jaman saya SD tuh. Kalo pagi kami selalu diantar sama papa, pulangnya naik angkot, tapi sering juga pulang sekolah jalan kaki gara-gara ongkosnya dipake jajan, atau pulang sekolah nebeng mobil bak terbuka, di setrap depan kelas karena ga bikin PR (tapi untungnya ga pernah tuh disebat sama rotan oleh guru). Dan banyak lagi cerita serunya. Saya merasa beruntung sekali melewati semua masa-masa itu. Saya merasa, saya hari ini, terbentuk tidak lepas dari cerita-cerita masa kecil saya itu.

Hari ini, saya juga memikirkan masa kecil anak-anak saya. Saya sangat ingin anak-anak saya pun bisa memiliki masa kecil yang menyenangkan, yang tidak terlupakan dan membuat mereka berpikir bahwa mereka sangat beruntung. Beberapa hal yang saat kecil dulu saya alami atau lakukan, saya coba untuk juga saya hadirkan di kehidupan mereka. Seperti contoh naik angkot, waktu pertama naik angkot, anak saya bingung kenapa di mobil ada orang asing. Lalu naik bis, anak saya bolak balik nanya, kenapa bisnya ga jalan-jalan padahal di depan jalannya kosong, lalu mengeluh kepanasan."Mami, kok bisnya ga jalan-jalan sih, Nadeem kepanasan nih..", begitu dulu komentar Nadeem saat usia 4 tahun saya ajak naik bis kota yang non AC. Saya juga sebetulnya ingin anak-anak saya bisa merasakan suasana sore menjelang magrib di sekitar mesjid, biar mereka juga terbiasa sholat di mesjid. Sayang kondisi rumah kami yang cukup jauh dari mesjid membuat saya pun agak ga nyaman kalo membiarkan mereka sholat di mesjid tanpa saya dampingi.
Like Mother Like Son, hehehe maksa :p

Sobat, inti dari tulisan saya kali ini. Pernahkan kita betul-betul memikirkan akan menjadi seperti apa anak-anak kita saat dewasa nanti? Apa feedback yang kita harapkan dari mereka saat mereka besar nanti? Sudahkah kita ada untuk mereka dalam kualitas waktu yang betul-betul berkualitas bagi mereka. Bukan hanya sering, tetapi juga bermakna untuk mereka dan dikenang selalu. Ada perbedaan yang saya liat antara orangtua jaman kita kecil dengan orangtua di masa kita sekarang. Orangtua jaman sekarang terlalu sibuk mencari uang, sehingga mungkin beberapa lupa bahwa anak tidak hanya butuh materi, tetapi juga perhatian, pengalaman berkegiatan bersama secara fisik alias kumpul  bersama, dan juga tauladan dari orangtuanya. Contoh kecil, kalo ingin anak peduli sama kita, tentu dimulai dari kita ortunya yang harus peduli pada mereka. Kalo ingin anak sholat, tentu harus dimulai dari kita yang juga sholat, khususnya terlihat di mata mereka kita beribadah, sehingga anak mencontoh. Tapi kalo kita saat dirumah pun terlalu sibuk dengan gadget kita, membalas email, baca timeline social media dan update status selalu, maka anak pun juga demikian, mereka akan asyik dengan gadget yang juga kita belikan untuk mereka.

Benar kita harus bekerja mencari uang untuk memenuhi kebutuhan keluarga kita, pendidikan anak-anak kita dan lain-lain. Tapi bekerja lah dengan cerdas, jangan sampai sekedar kerja keras, tetapi tidak berhitung dengan waktu. Dengan gaji kamu hari ini, pernah menghitung berapa kamu dibayar sama kantormu perjam? Lalu berapa banyak waktu yang kamu sisakan untuk anak-anakmu? Kurangi lagi dengan waktumu dalam menerima telpon, membalas email dan buka-buka timeline social media. Apakah anak-anak pantas mendapatkannya..? Untuk yang masih single atau belum punya anak, dan memiliki kompetensi yang bagus, jangan hanya sekedar mencari pekerjaan, tetapi lebih baik kita memilih pekerjaan, pekerjaan yang masih tetap memberikan kita ruang untuk menjadi manusia "normal". Karena zaman sekarang di kota besar khususnya Jakarta, menurut saya sudah ga normal. Berangkat subuh, sampe rumah jam 8 malem paling cepet. Kalo hujan, pulangnya bisa lebih telat lagi karena macet dimana-mana.  Lebih suka punya pilihan atau menganggap ga ada pilihan? Pilihan ditanganmu.




Senin, 11 Agustus 2014

Kisah Istri Ditinggal Suami


Saat berhaji bersama tahun 2000
Nama lengkapnya Hj. Suhefni Amir, istri dari bapak Alm. H. Adrizal Agus. Mereka menikah pada bulan Juni 1980, dan dikaruniai 4 orang anak. Pak Rizal --demikian panggilan akrab Almarhum-- bekerja sebagai seorang Pegawai Negeri Sipil di era Orde Baru, dimana semua harga barang mulai dari pangan hingga papan, relatif stabil. Era dimana HP, Kartu Kredit dan berbagai kemudahan belum bermunculan seperti saat ini. Istrinya, Ibu Hefni --demikian sapaan akrabnya-- adalah seorang yang sangat konservatif. Sejak menikah belum pernah kerja, meski ia punya keahlian membuat beraneka ragam kue, masakan dan sedikit kemampuan menjahit. Ia memilih mengabdikan hidupnya untuk keluarga, yaitu mengurus anak-anak dan suaminya. Sadar akan pekerjaan suaminya yang hanya seorang PNS dengan 4 orang anak, ia pun mendisiplinkan diri untuk menabung. Khususnya untuk pendidikan anak-anaknya. Setiap dapat rezeki lebih dari suaminya, dipastikan itu akan masuk ke tabungan, atau langsung dibuatkan deposito atau dibelikan tanah meski di pelosok yang jauh, bahkan dibelikan perhiasan emas yang dalam pikirannya, selain emasnya bisa dipakai untuk mempercantik diri, harga emasnya jika dijual pun relatif stabil. Sementara profil suaminya, ia adalah seorang karyawan yang tergolong abdi negara, bekerja sesuai jobdesk, selesai kerja pulang ke rumah. Pak Rizal ini seorang perokok berat dan pecandu masakan istrinya. Maklumlah, Pak Rizal ini asli orang Padang, jadi setiap hari perutnya harus kena santan. :)

Bpk. Rizal & Ibu Hefni, 2002.

Pada usia pernikahan mereka ke 16 tahun, atau tepatnya tahun 1996, Pak Rizal jatuh sakit, hingga membuatnya harus dirawat di Rumah Sakit. Pertama kalinya dia masuk rumah sakit dan dirawat karena penyakit. Saat itu beliau berusia 44 thn. Berdasarkan hasil cek laboratorium, Pak Rizal divonis menderita diabetes. Atas penyakitnya itu, beliau diharuskan menjalankan pola makan diet ketat dan mengurangi merokok. Badannya yang semula gemuk berisi dan tegap, dalam waktu 2 tahun langsung menyusut drastis, kurus. Ya karena harus mengurangi makanan berkarbohidrat tinggi.



Mendampingi putrinya saat wisudanya.
Singkatnya di bulan November tahun 2003, saat itu moment lebaran Idul Fitri. Pak Rizal dan keluarganya, memilih berlebaran di Bandung, sambil menengok kedua putrinya yang sedang kuliah di sana. Pak Rizal pun memilih mudik dengan menggunakan mobil pribadi, dimana hanya dia yang bisa mengemudikan mobilnya alias tanpa sopir cadangan. Tibalah mereka sekeluarga di Bandung, dan merayakan Idul Fitri bersama keluarga besar dengam bahagia. Lalu hari itu pun tiba. Tepatnya di hari kedua lebaran Idul Fitri, sekitar jam 23.30 atau sesaat setelah acara kumpul keluarga besar bubar, Pak Rizal terkena serangan jantung. Setidaknya itu yang diperkirakan dokter, setelah Pak Rizal tiba di Rumah Sakit dalam keadaan sudah meninggal. Sempat tidak ada yang percaya ketika kabar meninggalnya pak Rizal ini disebarluaskan. Termasuk istri dan anak-anaknya. Karena sesaat sebelum meninggal, pak Rizal sempat minta untuk diambilkan makan sama istrinya, lalu beliau menunaikan sholat isya dan saat menjelang tidur 1 kalimat yang dia ucapkan kepada istrinya adalah,"Ma, tolong pijitin punggung Uda nih..". Lalu saat istrinya hendak menyentuh punggung suaminya, sang suami langsung merebahkan diri di pangkuan istrinya dan langsung kejang seperti orang ngorok. Kebersamaan kedua pasangan ini hanya selama 23 tahun, terhitung sejak mereka menikah. Pak Rizal meninggalkan 1 orang istri, 4 orang anak yang pertama sedang skripsi, kedua kuliah semester akhir, ketiga mau lulus SMA dan yang paling bungsu mau lulus SMP.

Ke-4 anak Bu Hefni yang sudah sarjana dan mandiri
Lantas bagaimana dengan kehidupan keluarga yang ditinggalkannya..? Seperti yang tadi diceritakan, profil istrinya adalah seorang yang amat pandai dalam menyisihkan uang. Sehingga untuk biaya sekolah anak-anaknya pun sudah ia siapkan, bahkan anak-anaknya pun bisa mendapatkan beasiswa sehingga lebih meringankan beban biaya yang harus ditanggung Bu Hefni. Atas kemampuannya mengelola keuangan, Bu Hefni pun berhasil mengantarkan putra-putrinya menjadi sarjana dan Alhamdulillah hari ini pun mereka sudah berpenghasilan dan mampu menopang hidupnya masing-masing.
                                                                                -- ** --

Pasangan Ibu Santi - Alm. Bpk. Suraji

Kisah berikutnya adalah Ibu Norma Yusanti istri dari bapak Alm. Suraji Saputro yang kelahiran tahun 1972. Sejak hamil anak pertama, Ibu Santi pun sudah tidak bekerja lagi, dan memilih untuk mengurus anak-anaknya dan suami. Pada pernikahan mereka ini, mereka dikaruniai 2 orang anak yang saat ini berusia 6 tahun dan 8 tahun. Pak Suraji ini adalah seorang karyawan swasta yang sudah bekerja lebih dari 10 tahun di sebuah perusahaan pengadaan di Jakarta. Pak Suraji pun tergolong karyawan yang tidak neko-neko, selesai tanggung jawabnya, pulang ke rumah menemui anak dan istrinya. Pak Suraji bukan seorang perokok dan tergolong pemilih dalam makanan. Hingga suatu hari di bulan Agustus 2013, pak Suraji mengeluh kepalanya pusing dan nafasnya sesak. Sehingga beliau harus dilarikan ke rumah sakit swasta di Bekasi. Karena kondisinya cukup memprihatinkan, pak Suraji sempat masuk ICU selama kurang lebih 4 hari. Hampir 1 bulan, dia berobat tim dokter belum mengetahui sakit persisnya apa, sempat dibilang infeksi paru-paru dan thypes, tapi obat yang diberikan tidak menunjukkkan hasil. Saat pindah Rumah Sakit, atau bulan kedua, barulah dokter mengetahui sakit yang sebenarnya diderita pak Suraji adalah Meningitis. Hampir 2 bulan di Rumah Sakit, pak Suraji langsung menghabiskan plafon asuransi yang disediakan oleh kantornya. Karena saat pindah Rumah Sakit, Pak Suraji sempat masuk ICU lagi dan dalam kondisi plafon asuransi kantornya sudah mencapai batas limitnya, perusahaan tempat pak Suraji bekerja pun pasang badan.

Moment perayaan ultah kedua putra tercinta mereka.
Kantor tempat pak Suraji bekerja, menyatakan akan menanggung biaya Rumah Sakitnya. Tentu saja hal ini membuat lega ibu Santi, karena dia sendiri bingung bagaimana membayar biaya rumah sakit yang sedemikian mahalnya, sementara suaminya pun sakit. Setelah keluar dari ruang ICU dan masuk ruang perawatan biasa, pak Suraji minta untuk rawat jalan saja. Mungkin ini karena pak Suraji malah jadi pusing sendiri memikirkan berapa biaya Rumah Sakit yang nantinya harus dia cicil dari gaji bulanannya. Mereka memilih melakukan pengobatan alternatif. Sempat menunjukkan hasil yang positif bagi perkembangan kesehatan pak Suraji, dan bahkan bulan Februari 2014 beliau sempat kembali bekerja seperti biasa. Tetapi baru 3 minggu bekerja, pak Suraji kembali drop dan langsung masuk ICU kembali, tepatnya dirujuk ke RS Fatmawati Jakarta. Akhirnya, pada subuh hari tgl 4 Maret 2014 pak Suraji meninggal dunia, dengan meninggalkan 1 orang istri, dan 2 orang anak yang masih berusia 7 dan 9 tahun. Usia dimana anak-anak ini masih sangat membutuhkan perhatian seorang ayah dan khususnya materi nafkah untuk keberlangsungan pendidikan mereka. Sementara ibu mereka, ibu Santi adalah seorang ibu rumah tangga murni.

Anak-anak ini hanya sebentar merasakan dekapan ayah mereka.
Sebetulnya, kondisi pak Suraji yang semasa sakitnya, saat biaya plafon asuransinya sudah mencapai limit, lalu kantornya bersedia meng-cover biaya perawatan lanjutannya, adalah sangat beruntung. Hal itu tidaklah mungkin dilakukan sebuah perusahaan, jika perusahaan itu tidak memandang sosok pak Suraji, yang mungkin mereka anggap berjasa dan berdedikasi terhadap perusahaan. Bahwa Pak Suraji mungkin dianggap juga berkontribusi dalam membantu perusahaan mencapai profitnya setiap tahun. Ingat! Perusahaan bukanlah lembaga sosial, mereka adalah lembaga yang mencari profit. Jika seorang karyawannya selama 3 bulan tidak bisa bekerja, bahkan perusahaan harus membiayai biaya Rumah Sakit, jika orang itu bukan seperti seorang pak Suraji, menurut Anda, perusahaan memilih untuk membayari biaya Rumah Sakit hingga waktu dan limit yang tidak diketahui atau membayar pesangon karyawan tersebut sebanyak 3-5x gajinya..??! Saya yakin Anda bisa menjawabnya dengan bijak.

Untuk kisah cinta Bu Santi dan Alm. Pak Suraji, mereka hanya bisa hidup bersama selama kurang lebih 10 tahun. Hari ini, demi memenuhi kebutuhan kedua putranya dan ibunya bu Santi, sehari-hari Bu Santi memilih membuka warung mie ayam. Dan dirumahnya, Bu Santi pun membuka warung sembako yang ditunggui oleh ibunya yang saat ini berusia sekitar 72 tahun. Kisah yang pertama, itu adalah kisah dari kedua orangtua saya sendiri. Sedangkan kisah kedua, ini adalah kisah dari sahabat saya Ibu Santi, dan kisah ini saya tulis dan sampaikan disini atas izin beliau.
                                                                                -- ** --


Keluarga kecil saya

Berikutnya adalah kisah saya dan suami saya. Saya dan suami menikah pada tahun 2007, dan saat ini kami sudah dianugerahi 2 orang putra yang sehat dan aktif, berusia 6 tahun dan 3 tahun. Suami saya seorang yang visioner, dimana dia sudah mulai mempersiapkan segala kebutuhan kami di masa pensiun nanti dan juga mulai mencicil biaya pendidikan anak-anak kami. Pengalaman suami saya yang bekerja di industri perbankan selama hampir 10 tahun, membuat dia sangat paham akan proses time value of money dan  juga inflasi, bahwa menabung di bank untuk jangka pendek adalah baik, tetapi untuk tujuan jangka panjang, Bank sudah bukan menjadi pilihan baginya. Investasi unit link dan properti menjadi andalan investasi keluarga kami. Inflasi di Indonesia di zaman pasca Orde Baru, sangat tidak stabil dibandingkan zaman Orde Baru. Bisa diingat, zaman Orde baru tahun 1993 misalnya, hanya Rp 900 perak! 1998 menjadi Rp 1.200 dan saat ini menjadi Rp 6.500. Dan betapa harga bensin ini juga mempengaruhi banyak sektor kehidupan masyarakat, dengan membuat berbagai harga juga ikut naik, yang akhirnya juga berpengaruh terhadap pola kita dalam mempersiapkan financial keluarga kita untuk masa mendatang.

Tetapi apakah semua jalan hidup seseorang sama? Tidak. Lalu, dengan berbagai langkah yang sudah kami persiapkan, apakah membuat kami terhindar dari resiko seperti yang kisah yang terjadi kepada kedua orangtua saya? atau kisah sahabat saya..? Tidak. Saya, suami dan juga Anda beserta keluarga Anda memiliki resiko yang sama, yaitu sama-sama akan menemui tanggal kematiannya. Perbedaannya hanya di waktunya, gaya meninggalnya yang mendadak, sakit bertahun-tahun atau bahkan cacat total yang juga sama seperti mati. Di agama, kita yang hidup ini wajib mempersiapkan diri dalam menabung pahala yang akan dihitung-Nya untuk menentukan kita masuk Surga atau Neraka. Kalau ditanya, pasti semua mau masuk Surga dong.. Tapi kalau ditanya, sudah menyiapkan apa untuk jalan kesana? Lalu untuk urusan dunianya, kalo ditanya semua ingin hidup enak di masa pensiun nanti, tapi apakah pasti kita sampai di masa pensiun kita? Kalau pun iya, sudah menyiapkan apa? Kalau pun juga tidak sampai di masa pensiunnya, karena sudah dipanggil oleh-Nya, anak-anaknya apakah sudah disiapkan nafkahnya dan biaya pendidikannya? Karena itu adalah kewajiban kita untuk memenuhinya, sampai mereka bisa mandiri. Dosa kita pula kalau sampai anak-anak terlantar.

Sahabat, tulisan saya ini muncul semata-mata karena pemikiran saya, kekhawatiran saya dan kepedulian saya, agar sahabat-sahabat saya tidak perlu melewati hal terburuk yang mungkin tidak pernah kalian bayangkan sebelumnya. Berbuat baik dan beribadah adalah sebuah perencanaan bekal di akhirat nanti yang pasti akan kita masuki kehidupannya. Sedangkan membuat sebuah perencanaan keuangan adalah sebuah usaha mempersiapkan kehidupan duniawi kita kelak. Sehingga kita membuat keseimbangan antara dunia dan akhirat. Dari kisah-kisah diatas, saya menarik kesimpulan bahwa dalam hidup dan menghadapi resiko ditinggal oleh orang-orang yang kita cintai, khususnya mereka yang memberikan nafkah keluarga kita ada 3 hal. Pertama adalah Mental. Siap tidak siap kita harus siap menghadapi kehilangan sosok orang yang kita cintai, bisa tidak bisa kita harus bisa bangkit dari keterpurukan dan bahkan mungkin masa serba kekurangan yang akan timbul pasca ditinggalkan. Kedua adalah skill. Mencari pekerjaan tidak mudah, tetapi jika kita memiliki skill, misalnya menjahit, memasak, berdagang, maka skill itu bisa dimanfaatkan untuk menciptakan lapangan pekerjaan bagi diri sendiri. Ketiga adalah financial / keuangan. Khusus yang ketiga ini, menabung uang sebanyak-banyaknya pun jika tidak diimbangi dengan proteksi yang tepat, maka bisa menjadi sebuah usaha berusaha memenuhi air di dalam ember yang bocor.

Sahabat, saat ini saya bekerja sebagai seorang Financial Advisor. Jika tulisan ini memberikan inspirasi bagimu, dan membuatmu mulai berbenah diri, maka saya sangat bersyukur karena itulah tujuan utama tulisan ini saya buat. Lakukanlah hal yang terbaik dan tepat untuk keluargamu. Tetapi jika kamu merasa tidak tau harus berbuat apa untuk melindungi diri dan keluarga, dan butuh saran yang bisa kamu pertimbangkan bersama pasangan, maka saya pun bersedia membantumu. Just call me anytime you need.

Banyak orang kasihan kepada kita ketika jatuh, tetapi apakah sekedar rasa kasihan saja bisa membantumu untuk berdiri? Dibutuhkan uluran tangan yang bisa kamu pegang untuk membantumu berdiri. - Afnita Sari.

Selasa, 15 Juli 2014

Kasih Gue 700ribu, Lo Akan...

Duit 700ribu bisa ditukar dengan beberapa manfaat ini.
Hari gini, duit 700 ribu udah numpang lewat doang, kalo dibawa ke mall. Hilang, habis gitu aja untuk sesuatu yang sifatnya konsumtif. Dipake, bermanfaat sesaat, lalu hilang. Tapi kalo disimpan secara rutin, berasa gede banget yak..! Sebutlah disimpan, 5 bulan berturut-turut aja, udah jadi 3,5 Juta tuh duit.

Ceritanya, hari ini gue buka rekening baru di salah satu bank terkemuka di Indonesia, yang berawalan B dan berakhiran A dengan kantor cabang Lampiri, Pondok Kelapa Jakarta. Yak betul, bank itu, hehehehe.. Untuk sekedar buka rekening baru, diminta minimal Rp 500.000. Karena niatnya pengen buat simpanan rutin tiap bulan, ya ditambahin deh dikit, masukin lah perdana Rp 700.000. Setelah semua proses pendataan selesai, bereslah rekening baru gue itu. Oleh Customer Service-nya yang bernama Ayu, dia jelaskan soal rekening baru gue ini, kira-kira gini katanya,"Bu, ini rekening barunya, untuk yang tahapan gold, biaya kartunya Rp 15.000, untuk biaya administrasi tiap bulan Rp 13.000, lalu untuk bea materai karena ibu tidak melampirkan NPWP adalah Rp 12.000, dipotong dari rekening 3 hari dari sekarang...". Gue pun ya iya iya aja lah.. emang ada pilihan untuk menolak semua biaya-biaya itu..? Ga kaaan.. Hehehe.. Udah nih ya, abis tuh gue kan minta untuk langsung diaktifkan M-Banking-nya. Setelah diaktifkan, ternyata saldonya langsung berubah loh, jadi tinggal Rp 690.000. Gue tanya lah, "kok cuma segitu mbak..? Katanya biaya-biaya tadi, 3 hari setelah hari ini dipotongnya.. kok ini udah ada potongan..?". Dengan agak gelagapan, dia menjawab,"oh ini dananya langsung dikunci Rp 10.000 untuk saldo minimum". Ya sudah lah ya.. anggaplah itu uang jasa mereka yang sudah membantu menyimpankan uang kita.

Jadi mikir gue, kita nitipin duit kita di bank, sebagai jasanya kita membayar sejumlah biaya administrasi. OK stop sampai disitu. Lalu jadi keingetan sama rekening 2 in 1 yang sudah gue miliki sejak beberapa tahun lalu. Konsepnya sama, gue nitipin duit gue secara rutin tiap bulan ke rekening ini, gue pun dipungut biaya administrasi. Tapi bedanya, di rekening ini gue dapat manfaat tambahan yang menurut gue jadi kayak nukerin duit ratusan ribu dengan duit puluhan juta hingga ratusan juta dalam bentuk manfaat perlindungan diri sendiri maupun keluarga gue. Ya kalo nyimpen duitnya buat tujuan jangka panjang sih, mending gue simpan duitnya di Rekening 2 in 1 ini, soalnya kalo tiba-tiba sakit dan kudu dirawat di Rumah Sakit, tabungan gue itu ga lantas ludes untuk bayar RS, karena dibiayai sama Rekening 2 in 1 gue ini. Coba kalo simpen duitnya di Bank aja..? Emang ada Bank yang bayarin nasabahnya kalo masuk RS..? Boro-boro.. nengokin juga nggak kan.. hehehehe.
Olga, artis yang pecicilan aja kena sakit kritis. Entah udah berapa Milyar uangnya habis. Bagus doi tajir, lah kalo kita??

Ya, tapi biar bagaimana pun menyimpan uang di bank untuk jangka pendek sih emang lebih praktis di bank lah.. Tapi kalo untuk jangka panjangnya itu loh.. Apalagi kalo deposito untuk jangka waktu yang panjang. Udah lah nyetornya kudu minimal Rp 10 juta, uangnya dikunci, bunga cuma 6 % setahun (padahal inflasi rata-rata 8-10% pertahun? Rugi dong!), ga ada manfaat tambahan apa-apa pula, resiko tanggung sendiri semua. Sementara kalo simpan uangnya di Rekening 2 in 1 seperti punya gue ini, niat simpan uang untuk tujuan jangka panjang (uang kuliah anak, liburan keluar negeri, DP mobil baru, DP Rumah Baru, Pensiun, dsb) bisa tercapai, terjadi hal terburuk sama kita pun, si rekening ini siap bayarin.
Perbandingan Tabungan-Deposito dengan Rekening 2 in 1
Udah jadi mindset kebanyakan orang di Indonesia, kalo bisa buy One get 1, kenapa musti cari yang ga ada program diskon menarik. Begitu juga dengan Rekening 2 in 1 ini, ketika memutuskan untuk punya rekening ini, maka lo ga cuma beli 1 dapat 1, tetapi seolah bisa belinya 1, dapatnya 5 atau bahkan lebih manfaat sekaligus. Sekedar untuk menambah pengetahuan lo, coba lo liat video features dari sebuah stasiun TV swasta berikut ini, http://www.youtube.com/watch?v=kRcFpNmeOcI

Kalo pengen tau rekening 2 in 1 yang saat ini gue dan keluarga gue punya, boleh kontak gue. Kita obrolin dan gw kasih info seluas-luasnya tentang rekening 2 in 1 gue ini. Sekedar tau aja kok.. :)

Senin, 07 Juli 2014

Hari pertama Nadeem di SDIT Thoriq


Jamael Nadeem Omero Setianegara, 6 tahun. (kanan)
Senin, 7 Juli 2014 buat saya adalah salah satu hari bersejarah dalam hidup saya, karena hari itu, putra pertama kami, Jamael Nadeem Omero Setianegara (6 th), masuk SD. Mungkin berlebihan bagi orang lain, tapi tidak bagi saya. Bahkan hal ini menjadi hal yang tidak ingin saya lewatkan detik perdetiknya. Pandangan mata saya ga lepas dari Nadeem yang nampak cukup antusias dengan suasana sekolah. Begitu pun saya, lagi-lagi saya terkagum-kagum dengan sekolah ini, SDIT Thoriq bin Ziyad. Sekolah yang dulunya sangat saya takuti dan tidak menjadi sekolah pilihan bagi anak saya. Tetapi.. time flies.. manusia berubah, hati dan pikiran saya pun berubah seiring dengan kedalaman ilmu saya dan kebutuhan akan pendidikan di masa sekarang.

Hal pertama yang membuat saya kagum adalah ketika sekitar 800 anak SD yang dibariskan, bisa ditenangkan (baca: diam tanpa suara) oleh gurunya dengan cara yang sangat tenang, namun tegas. Justru suara para orangtua yang mengantar yang terdengar riuh. Subhanallah.. :)  Hal kedua yang membuat saya kagum adalah, cara guru sekolah ini dalam membangun rasa kekeluargaan, rasa saling menghormati antar angkatan, dan mencegah tradisi bully-mem-bully di kalangan anak SD seperti yang sering kali terjadi di zaman sekarang. Sang guru lelaki, mengajak para murid kelas 2 hingga 6, menyapa adik-adik kelas mereka dengan ucapan yang dibarengi dengan lambaian tangan,"Assalamu'alaikum adik-adik...", lalu disambut dengan jawaban oleh anak-anak kelas 1,       " Wa'alaikumsalam kakak-kakak..". Saat melihat anak saya, melambaikan tangan dengan senyum lebarnya membalas salam kakak-kakak kelasnya, air di mata saya ini langsung penuh, yang membuat saya jadi meneteskan airmata, karena saking lucunya melihat tingkahnya dan terharu dengan moment langka ini.
Suasana anak kelas 1 yang disambut kakak-kakak kelasnya.


Hal ketiga yang membuat saya merasa kagum, ga tau kenapa kok rasanya hati ini tenang banget liat wajah-wajah para guru baik laki maupun perempuan. Mereka nampak sangat menjiwai profesi mereka sebagai guru, dan sangat menyadari bahwa apapun gerak-gerik mereka, tutur kata mereka adalah bisa menjadi tauladan atau contoh bagi murid-muridnya. Ditambah lagi, saat menyampaikan pola didik mereka, Thoriq menyusun pemahaman belajar berdasarkan A3B, yaitu Ahlak-Al Quran-Akademis dan Bahasa. Untuk hal ini, kembali membuat saya terharu dan merasa (In shaa Allah) keputusan kami dalam menyekolahkan anak di sekolah ini adalah tepat. Teringat sekitar 2 tahun lalu, saat Nadeem masih di kelas Playgroup, saat cukup banyak ortu yang bahas bahwa SDIT Thoriq ini bagus, dan SDIT favorit di Bekasi. Saya sama sekali tidak tertarik dan justru merasa takut kalo anak saya sekolah disana. Ketakutan saya adalah, saya takut anak saya ga mampu ngikutin pelajarannya yang katanya, banyak sekali hafalan Al Quran, karena memang mereka dituntut untuk menghafal Al Quran minimal 2 Juz. Tapi semua hal itu runtuh, saat pertama kali datang ke Thoriq untuk sekedar ingin tau tentang sekolah ini. Jawaban sang guru atas kekhawatiran saya bahwa Nadeem takutnya ga bisa ngikutin pelajaran, menjadi alasan kami akhirnya mendaftarkan putra kami ke SD Thoriq, "Awalnya cukup banyak anak-anak yang perlu banyak bimbingan, tetapi dengan metode setiap hari kami terapkan ke anak, lama-lama anak yang tidak bisa menjadi bisa karena terbiasa".

Saat tiba waktu pulang, anak saya pun keluar kelas dengan wajah sumringah. Di perjalanan pulang, dia bercerita tentang kegiatannya di kelas bersama teman-teman barunya, yang lalu ia simpulkan,"seru mi.. Nadeem seneng sekolah SD daripada TK". Alhamdulillah.. Semoga berbagai kekaguman saya di hari pertama sekolah ini, bisa terus bertumbuh. Sehingga anak saya, kami orang tua dan pihak sekolah bisa bekerja sama dengan baik, dalam mencetak generasi muda berikutnya, yang unggul, soleh dan cerdas. Aaamiin..


-- Curahan hati seorang ibu --

Senin, 16 Juni 2014

Akankah Ku Bisa Mengantarnya Wisuda?

Ilustrasi foto. Acara kelulusan TK yang saat ini sudah pakai ritual wisudaan juga :)

Betapa lucunya melihat foto anak-anak kecil yang berbalut baju toga ini.. Rasanya waktu jaman saya TK dulu ga ada tuh pake-pake acara wisudaan ala orang kuliahan kayak jaman sekarang.. hehehehe.. agak ngiri dikit. Tapi kalo mau dipikir-pikir lebih jauh lagi, hari ini kita bisa anterin anak menghadiri acara wisuda TK-nya. Menurutmu, yakin saat wisuda kuliahnya nanti kita bisa anterin mereka lagi? atau.. Yakin anak kita nanti bisa kuliah?Masih ingat berita tentang Raeni, anak tukang becak yang berhasil kuliah? (baca: http://www.antaranews.com/berita/438325/anak-tukang-becak-jadi-wisudawan-terbaik ). Saya rasa, kita punya situasi yang jauh lebih beruntung dari mereka. Beberapa pertanyaan ini tiba-tiba menghampiri benak saya, saat saya menyaksikan anak saya yang pertama berjalan di atas panggung dengan baju Toga-nya. Subhanallah.. merinding saya. Saya membayangkan kira-kira apakah Tuhan akan kasih saya usia yang bisa saya pergunakan untuk menjaga, mendidik dan mengantarkan anak-anak saya ke tingkat kuliah, hingga mereka dapat mandiri memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri..?

Saya saat berusia 1 tahun, 17 tahun dan 22 thn.
Ingatan saya pun terbang ke masa saya kecil dulu, teringat ibu saya yang menurut saya memiliki cita-cita yang mulia sekali terhadap anak-anaknya. Sejak saya masih bayi, ibu saya rupanya sudah bercita-cita supaya saya bisa menjadi seorang sarjana (Lihat foto). Cita-cita itu pun akhirnya saya ketahui ceritanya setelah saya betul-betul menyelesaikan kuliah dan menjadi sarjana. Kira-kira begini kata ibu saya,"Kak, masih ingat ga sama foto kakak yang masih umur 1 tahun pake topi toga..? Itu dulu waktu kakak ultah 1 tahun, mama sengaja bikin topi toga, mama bikin sendiri karena emang ga ada yang jual topi toga anak-anak. Mama pengen kakak nanti besarnya bisa jadi sarjana, Alhamdulillah sekarang cita-cita mama sama papa tercapai, makanya ini foto kakak yang udah beneran jadi sarjana, mama tempelkan juga di foto ini..". Dulu saat pertama kali mendengar cerita itu dari ibu saya, saya tidak terlalu merasa terharu. Tapi hari ini.. setelah saya sendiri punya anak, dan melihat anak saya memakai pakaian Toga, saya menjadi sangat melankolis alias sangat terharu. Haru bangga dan sedih yang bercampur aduk, haru melihat anak saya yang akan segera lanjut ke jenjang SD, haru karena teringat ibu saya yang berhasil mengantarkan saya menjadi diri saya hari ini, dan sedih ketika menyadari ada satu pertanyaan yang tidak bisa saya pastikan jawabannya.. Apakah saya akan sampai pada hari dimana anak saya akan wisuda sarjana kelak?? Anda pun pasti tidak bisa menjawabnya.

Sedikit mengenang masa kecil saya. Ibu saya adalah seorang ibu rumah tangga tulen, yang betul-betul mengabdikan hidupnya untuk suami dan anak-anaknya. Ibu saya hanya mengandalkan penghasilan dari Bapak saya. Untungnya ibu saya seorang yang pandai sekali menyisihkan uang. Sehingga sejak saya dan ketiga adik saya masih kecil-kecil, ibu saya sudah membuatkan tabungan masing-masing untuk kami. Tabungan pendidikan anak kalo kata ibu saya dulu. Waktu kecil, ibu saya memang sangat ketat dan tidak pernah lelah mengingatkan saya dan adik-adik untuk rajin belajar, biar pintar dan bisa sekolah di negeri. Dan benar saja, saat saya masuk kuliah, orang tua saya tidak menemukan masalah berarti dalam memenuhi biaya kuliah saya. Karena selain saya masuk kampus negeri, ternyata nilai-nilai saya waktu kuliah membuat saya berhak mendapatkan beasiswa, baik dari kampus dan dari kantor bapak saya. Alhamdulillah..

Singkatnya, di akhir tahun 2003, tepatnya di hari kedua lebaran Idul Fitri, kami sekeluarga besar diberikan cobaan yang teramat tiba-tiba. Malam kedua lebaran, sesaat sesudah bubaran kumpul keluarga atau sekitar 2 jam setelah bubar acara kumpul keluarga, bapak saya meninggal. Prosesnya pun sangat cepat dan tidak ada yang menduga sama sekali, karena sebelumnya bapak saya masih minta diambilkan makan ke ibu saya, setelah itu beliau merokok keluar, lalu masuk lagi untuk menunaikan ibadah sholat Isya yang dilanjutkan bapak saya minta tolong untuk dipijitin sama ibu saya. Disitulah tiba-tiba bapak saya seperti orang ngorok menjatuhkan badannya ke ibu saya, dan meninggal dalam perjalanan menuju Rumah Sakit. Berdasarkan diagnosa dokter sepertinya bapak saya terkena serangan jantung. Wallahu'alam bissawab..

Hari ini, saya seperti mengevaluasi kehidupan keluarga kecil saya dan keluarga orang tua saya. Saya berpikir, waktu itu bapak saya meninggal di usianya yang seminggu lagi akan menjadi 51 thn, meninggalkan 1 orang istri yang merupakan ibu rumah tangga tulen, 4 orang anak yang 1 mau naik SMA, yang 1 mau masuk kuliah, yang 1 sedang kuliah dan terakhir saya sedang penyusunan skripsi. Saya berpikir bagaimana ibu saya bisa menghidupi anak-anaknya yang masih butuh biaya sekolah ini..? Ternyata ibu saya meski hanya seorang ibu rumah tangga, bukan seorang wanita karir loh.. sangat pandai menyimpan dan menyisihkan uang. Menurut ibu saya, untuk biaya sekolah anak-anaknya hingga selesai, beliau sudah mempersiapkannya. Hanya untuk hari-harinya yang mengandalkan gaji pensiunan seorang PNS. Di saat ternyata masih kurang pun, ibu saya terpaksa menjual aset-aset simpanannya seperti perhiasan emas. Ya, ibu saya seorang yang konvensional, dia menyukai menabung dengan cara deposito dan membeli emas perhiasan sebagai simpanan yang juga bisa digunakan sewaktu-waktu. Dan memang benar, hal itu dibuktikan dengan Alhamdulillah ke-4 anaknya saat ini sudah menjadi sarjana semua, dan sudah bisa mandiri semua. Meski beberapa aset keluarga seperti Rumah dan sejumlah perhiasan serta deposito sudah dijual dan dicairkan ibu saya, demi kelangsungan hidupnya dan anak-anaknya. Tapi kan itu cerita ibu saya, yang Alhamdulillah sampai tulisan ini saya buat, beliau sehat wal'afiat.. bagaimana saya dan suami saya atau Anda dan pasangan Anda..? Apakah jalan yang digariskan-Nya sama dengan apa yang kita rencanakan..??
Foto saya dengan Toga saat usia 1 thn dan dengan Toga yang sesungguhnya. 




Kembali ke kehidupan saya sendiri hari ini. Saya pun bertanya pada diri saya sendiri.. Kehidupan yang seperti apa yang saya harapkan kelak di masa tua saya nanti? Seberapa besar keinginan saya untuk membuat anak saya bisa memiliki pendidikan setinggi mungkin..? Dan yang paling penting, jika ternyata nanti waktu saya dan suami tidak sampai pada masa dimana anak-anak kami akan wisuda dan berkeluarga sendiri, bisakah mereka tetap bersekolah atau kuliah dan bahkan hidup layak minimal seperti yang sudah mereka rasakan hari ini..? Sangat tidak fair dong, kita minta anak kita belajar keras, supaya dapat nilai bagus, biar bisa sekolah setinggi mungkin di kampus negeri. Tetapi ketika mereka sudah benar-benar belajar keras, mengikuti nasehat kita, dan berhasil masuk kampus favorit, namun saat waktunya mereka mau kuliah, kita orangtuanya beralasan, kita tidak punya uang yang cukup karena berbagai alasan. Adil kah untuk mereka? Apa yang sudah Anda lakukan untuk mereka orang-orang yang (katanya) utama dan diatas segala-galanya ? Sudah mencukupi kah?

Alhamdulillah, keluarga kami sekarang sudah merasa lebih tenang ditengah ketidakpastian yang sudah pasti, karena membuat satu perencanaan keuangan keluarga yang In sha Allah menjadi solusi bagi kami sekeluarga dan bahkan jutaan keluarga diluar sana. Anda pun bisa punya rencana keuangan seperti yang kami miliki..? Sangat mudah dan sederhana.. sesederhana saat kita keluarkan uang di hari weekend bersama keluarga. Ayo deh kita ngopi bareng, untuk sharing informasi dan sharing rencana masa depan keluarga yang seperti apa yang diharapkan. Perencanaan Keuangan itu adalah memastikan yang belum pasti di masa mendatang dan bahkan beberapa jam atau menit ke depan. Setuju ? 

وَالَّذِينَ يُتَوَفَّوْنَ مِنْكُمْ وَيَذَرُونَ أَزْوَاجًا وَصِيَّةً لِأَزْوَاجِهِمْ مَتَاعًا إِلَى الْحَوْلِ غَيْرَ إِخْرَاجٍ ۚ فَإِنْ خَرَجْنَ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ فِي مَا فَعَلْنَ فِي أَنْفُسِهِنَّ مِنْ مَعْرُوفٍ ۗ وَاللَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ
Dan orang-orang yang akan meninggal dunia di antara kamu dan meninggalkan isteri, hendaklah berwasiat untuk isteri-isterinya, (yaitu) diberi nafkah hingga setahun lamanya dan tidak disuruh pindah (dari rumahnya). Akan tetapi jika mereka pindah (sendiri), maka tidak ada dosa bagimu (wali atau waris dari yang meninggal) membiarkan mereka berbuat yang ma´ruf terhadap diri mereka. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. 
240
Al Qur'an surat Al-Baqarah ayat 240 terjemahan Indonesia 
Mampukah kami melengkapi foto ini? Adakah kami juga akan ada difoto tahun 2030 itu?

Sabtu, 05 April 2014

Jangan Doakan Saya Panjang Umur, tapi..

Alhamdulillahirobbil 'alamiiin.. Terima kasih ya Allah, atas izin-Mu memberikanku kehidupan layak dan kebahagiaan bersama orang-orang yang aku cintai. Ya, hari ini 6 April 2014, usia saya genap 33 tahun (meski tgl peluncuran tulisan ini tertera tgl 5,mungkin perbedaan waktu dgn luar negeri kali ya..).  Well, sengaja dengan jelas saya sebutkan supaya saya selalu mengingat, bahwa saya sudah hidup di dunia ini selama 33 tahun. Lalu apa yang sudah saya hasilkan di usia tersebut? Jawaban atas pertanyaan ini, jika ini ditanyakan beberapa tahun yang lalu, mungkin jawaban saya masih melulu materi, yaitu gaji saya di usia sekian cuma sekian.. karir saya di usia sekian masih sebagai kroco yang dibatasi dengan berbagai aturan dan seterusnya. O iya, jangan tersinggung buat yang baca kalimat terakhir ini, ini saya berbicara tentang diri saya, dan jika Anda saat ini masih disana, bukan salah Anda juga. Keadaan lah yang membuat kita ada disana. Beruntungnya saya, saya sudah keluar dari sana, dan semoga teman-teman dan saudara-saudara saya bisa segera menyusul. Sekali lagi, tulisan ini adalah tentang saya, bukan tentang orang lain.
Selalu ada moment potong kue dan foto bersama keluarga.

Kembali ke pertanyaan Apa yang sudah saya hasilkan di usia saya saat ini? Jawaban atas pertanyaan tersebut hari ini adalah, sudah berapa banyak kebaikan dan hal bermanfaat untuk orang lain yang sudah saya buat? Ya, pertanyaan yang dijawab kembali dengan pertanyaan. Untuk beberapa orang yang baca ini mungkin akan komentar,"Ah basi lu Nit..". Well, saya ga minta orang komentar dan saya pun masa bodoh dengan pemikiran orang. Saya ya saya, saya tau apa yang saya mau dan apa yang harus saya lakukan untuk mencapainya. In Sha Allah.. :)

Mungkin titik baliknya adalah saat saya memutuskan berhenti dari dunia kerja kantoran, di saat suami saya Alhamdulillah bisa handle semua kebutuhan materi keluarga secara penuh, sehingga saya sebetulnya ga perlu bekerja lagi. Tetapi selama beberapa bulan full dengan urusan rumah tangga dan anak-anak, ternyata malah membuat saya menjadi pribadi yang kurang baik, alias jadi gampang tersinggung, gampang capek karena stres dengan berbagai urusan rumah. Imbasnya.. anak-anak salah sedikit, marahnya saya bisa meledak, suami pun jadi ikutan kena imbas betenya. Wah! ini ga baik kalo dibiarkan. Makanya salut banget sama ibu jaman sekarang yang sanggup fulltime urus rumahntangga dan anak. Atas izin suami, saya pun mencoba membuat kegiatan sambilan berdasarkan hobi saya akan fotografi, dan dari sana pun berkembang banyak ide. Dari sana pula saya merasa ada perubahan pola pikir, yaitu dari mencari uang untuk kebutuhan menjadi mencari eksistensi diri. Lalu itu pun berkembang lagi menjadi, ingin menjadi pribadi yang bermanfaat untuk orang lain. Mungkin inpsirasinya juga muncul dari seorang Rapper dan Komika Indonesia yang lagi happening banget saat ini, dengan berbagai karya dan pemikirannya, Pandji Pragiwaksono. Kira-kira begini kata dia,"Saat ini bukan saatnya gue BEKERJA, tetapi saatnya BERKARYA".

Emang enak banget ya kalo orang sudah sampai pada titik itu. Saya mungkin belum sampai pada titik seperti si Pandji, tetapi minimal saya ingin bisa bermanfaat untuk orang lain, dan ternyata dengan kehidupan saya hari ini, yang merupakan emak-emak beranak 2, itu pun menjadi salah satu inspirasinya. Saya melihat perkembangan anak-anak saya hari ini, dan saya pun membandingkan dengan masa kecil saya dulu. Ada hal yang saya ingin anak saya bisa juga merasakan seperti halnya saya kecil dulu, dan ada hal yang justru saya ga ingin anak-anak saya mengalaminya. Apa itu? Ya simpelnya gini deh, saya melihat saat ini, ga banyak event anak yang bisa anak saya ikuti. Saya ingin anak saya ini bisa kaya akan pengalaman, saya ingin melengkapi masa bermainnya dengan berbagai kegiatan positif, tidak hanya dari sekolah. Dari pemikiran itu, terbentuk lah sebuah Event Organizer (EO) kecil-kecilan, bernama BuBu Organizer yang saya bentuk bersama dengan salah seorang teman yang juga sekaligus tetangga saya yang baik. EO ini sengaja saya khususkan untuk menangani event-event anak dan keluarga, karena background saya yang seorang Ibu Rumah Tangga dengan 2 anak yang masih kecil-kecil, tentu inspirasi eventnya lebih banyak datang dari anak. Seperti menangani event ulang tahun, sunatan, akikah, seminar parenting dan lain-lain. Beberapa event yang sudah EO saya selenggarakan pun bisa dibaca liputannya di blog saya www.kunitapro.blogspot.com

Sebelumnya saya membuat Bengkel Foto KunitaPro, inspirasinya adalah seringnya saya memotret berbagai kegiatan anak-anak saya hanya melalui HP, tetapi foto-foto itu semua hanya tersimpan di memori HP. Beberapa foto yang bagus dan unik pun dicetak, tetapi mau berapa banyak foto yang dicetak?? Akhirnya terpikirlah untuk mencetak foto unik tersebut ke berbagai media, seperti kaos, mug, sticker label, pin, gantungan kunci, kalender dan banyak lagi. Ternyata ini diminati banyak teman-teman saya yang akhirnya pun ikut pesan. Keuntungan yang ga seberapa terbayar dengan kepuasan hati saya melihat banyak teman-teman saya dan juga anak-anaknya yang merasa senang atas design saya.

Kembali ke makna ulang tahun saya tahun ini, jika sebelumnya saya ingin bisa BERMANFAAT untuk orang lain, maka hari ini pekerjaan baru saya lainnya--yang belum bisa saya publish secara gamblang tetapi beberapa orang dekat saya sudah tau pekerjaan baru saya itu-- adalah ingin bisa MEMBANTU orang lain. Ya di sisa usia saya sekarang, saya ingin bisa menjadi manusia yang lebih bermanfaat dan bisa membantu banyak orang. Saya percaya, rezeki Allah sudah atur untuk umat-Nya yang mau berusaha. Bekerjalah dengan sepenuh hati, bukan sesuka hati. In sha Allah bukan cuma dunia yang didapat, tapi juga akhirat. O iya, by the way, Alhamdulillah juga.. tahun ini genap 2 tahun saya memakai jilbab, semoga bisa lebih baik lagi ya. Jadi inget juga sama ceramah seorang ustadz di acara pengajian keluarga,"Doa minta dipanjangkan umur itu bukan doanya orang soleh.. Mintalah untuk diberikan keberkahan di sisa usiamu.. Untuk apa panjang umur tapi banyak berbuat dosa dan ga memberi manfaat buat orang lain..?". Alhamdulillah sempat mendengarkan tausiah itu ya.. words banget deh tuh kata si ustadz buat saya mah.. Tapi kalo lirik lagu Selamat Ulang Tahun, ada kata "...selamat panjang umur.." ya sudahlah ya, biarkan itu jadi PR pencipta lagunya hihihihih.. Ketika kita tidak ada lagi di dunia ini, ingin seperti apa orang mengingat kita? Seberapa banyak orang yang  dengan ikhlas bersedia mendoakan dan mengantar kita ke tempat peristirahatan terakhir? Subhanallah.. beri Aku kesempatan ya Allah untuk mempersiapkan itu semua..

Moment pertama kali memakai jilbab
Di akhir tulisan saya hari ini, doa dan syukur saya adalah, semoga Allah selalu memberkahi dan melindungi saya dan keluarga saya, selalu membimbing saya untuk menjadi manusia yang lebih peka dan peduli terhadap lingkungan sekitarnya, menjadi pribadi yang lebih tangguh dalam memperjuangkan hal baik demi kebaikan bersama, menjadi manusia yang pandai bersyukur dan mengambil hikmah dari semua kejadian serta menjadi seorang ibu/anak/istri/menantu/kakak/tetangga/hamba Allah yang solehah.. Aamiin.. aamiin..aamiin yaa Robbal 'Alamiin.. 




Sabtu, 01 Maret 2014

Surat Untuk Anakku




Hari-hari belakangan ini adalah hari yang menegangkan buat Mami. Kenapa? Karena surat keputusan dari SD Islam favorit yang sedang kita tuju, menyatakan kamu sebagai siswa Cadangan. Yah, keputusan itu keluar karena saking banyaknya peminat yaitu sekitar 150an anak yang ingin masuk sekolah ini, sementara kuota kelasnya hanya 96 kursi. Kalau di flashback ke belakang saat awal Februari 2014 kamu ikut tes saringan masuknya, kamu menjawab bahwa kamu bisa. Meski lalu malam harinya, tiba-tiba kamu cerita karena baru inget,”Eh Mi, kayaknya nadeem ada yang salah deh, harusnya dikurangin, Nadeem malah nambahin..”. Mami waktu itu cuma senyum, dan komentar,”Nah kan, itu pasti karena kamu ga konsentrasi dan ga focus sih.. Tapi ga papa lah yang penting kan udah usaha”. Sebetulnya yang bikin mami bangga sama kamu, bukan karena kamu bisa kerjain soalnya.. tapi karena kamu menyadari kesalahanmu dan mau mengakuinya. Ga banyak orang yang bisa melakukan itu nak.. dan kamu baru saja melakukannya. 

Mungkin ini adalah salahnya mami, yang ga daftarkan kamu les calistung seperti halnya anak-anak seusiamu. Meski sempat les, lalu karena kamu bosan mami pun ga paksakan kamu untuk lanjutkan. Hal itu karena mami mendapatkan banyak referensi dari Ayah Edy Parenting Komunitas yang menyebutkan bahwa anak-anak usia dini, tidak diwajibkan bisa calistung. Anak seusia kamu seharusnya tidak dibebankan dengan pelajaran calistung, tetapi justru banyak bermain. Apalagi dengan karakter kamu yang merupakan anak kinestetik. Hal itu pula yang membuat mami dulu ga mau mendaftarkan kamu ke SD Islam yang sekarang kasih kamu status Cadangan ini. 
Ini karena “keisengan” mami yang datang ke sekolah itu untuk tanya-tanya, jawaban salah satu gurunya seolah menyadarkan mami bahwa sekolah ini yang bisa jadi partner kita sebagai orangtua dan anak untuk menuju keluarga sukses dan bahagia. Kira-kira begini jawaban gurunya,”Yah anak-anak seperti anak ibu cukup banyak di sini, tetapi itulah tugas kami bu.. mengarahkan anak-anak yang tidak  bisa menjadi biasa, lalu dari biasa menjadi bisa..”. Subhanallah.. jawabannya seperti memberikan motivasi bagi mami saat itu nak. Makanya mami daftarkan kamu ke sekolah itu.

Banyak referensi parenting yang mami baca dan dengar, tetapi menurut mami pada akhirnya juga harus disesuaikan dengan kebutuhan keluarga itu sendiri dan pastinya tujuan akhirnya. Setiap orangtua punya cara dan tujuan masing-masing dalam mendidik dan mengarahkan anak-anaknya. Buat kami nak.. kami ingin suatu saat nanti, kalian akan menjadi anak-anak yang mendoakan kami dengan ikhlas dan tulus, memohonkan ampunan kepada Allah atas segala dosa dan khilaf kami. Kami ingin kalian jadi anak-anak yang nanti akan dengan bangganya menceritakan ke orang lain, bahwa kalo dulu tidak dididik seperti yang diajarkan orangtua kalian, kalian tidak akan menjadi orang sukses. Percayalah nak.. nilai sekolah yang besar, nama sekolah terfavorit, bukan menjadi modal utama untuk jadi sukses di masyarakat. Kami ingin kalian menjadi pribadi yang berahlak, pekerja keras dan tulus dengan attitude yang juga baik.

Waktu kamu bisa baca, mami senang. Tetapi sesungguhnya mami jauh lebih senang bahkan bangga, ketika suatu waktu kita jalan-jalan ke mall, tiba-tiba kamu berhenti dan bilang ke mami bahwa itu panggung mini-nya punya mall posisinya renggang, itu akan membahayakan orang yang melintas. Mami bilang biarin aja, sambil terus berjalan. Sementara, kamu tanpa disuruh berbalik ke arah panggung mini, dengan tangan kecilmu, kamu dorong panggungnya hingga rapat kembali. Lalu setelah selesai, kamu berlari mengejar mami yang sudah jauh berjalan didepanmu. Well, ga banyak orang yang mau peduli untuk suatu hal yang ga berhubungan langsung dengan dia. Sementara kamu, peduli dan ga butuh waktu lama untuk melakukan hal yang baik. Nak, kamu pun sudah mengajari mami 1 hal hari itu. Bukan hal yang mudah untuk mengajarkan anak untuk peduli, tetapi menjadi hal yang mudah bagi orangtua untuk memberikan contoh teladan yang baik ke anak. Karena anak akan mencontohnya dengan baik pula.  

Mami berharap suatu hari nanti kamu bisa membaca tulisan mami ini, bukan sekedar bisa membacanya, tetapi sekaligus memaknai lebih dalam lagi, apa yang menjadi keinginan mami sebagai orangtuamu nak.. harapan kami sebagai orangtuamu nak.. Apapun yang menjadi keputusan sekolah itu nak.. Mami tetap bangga sama kamu. Tidak semua yang kita inginkan dalam hidup ini adalah sesuatu yang kita butuhkan. Allah tau apa yang terbaik untuk kita.. dan apa yang terjadi  nanti, buat mami pastilah itu yang terbaik untuk kita, dan pasti ada hikmah dimana mungkin ada sekolah lain yang lebih baik untuk kamu.. Kita sudah menjadi teamwork yang juga sudah memberikan yang terbaik yang bisa kita lakukan. Tugas kita hanya berusaha dan berdoa, selebihnya biarkan Allah yang menentukan.. I love you, son..

March 2014. Dedicated to my son, Jamael Nadeem Omero Setianegara.





Mendidik Anak Untuk Bahagia

Add caption Beberapa hari lalu, tepatnya pas anak-anak didik saya di SFC Kids Futsal latihan, ceritanya saya membagikan piala yg sudah ...